Perbedaan Risiko Bahaya Bus Konvensional dan Bus Listrik

Kompas.com - 08/08/2021, 09:01 WIB
Sebuah bus terbakar di Jalan tol Jagorawi, Jakarta Timur, Selasa (27/10/2020) Dok Sudin Gulkarmat Jakarta TimurSebuah bus terbakar di Jalan tol Jagorawi, Jakarta Timur, Selasa (27/10/2020)

JAKARTA, KOMPAS.com – Kehadiran bus listrik di Indonesia terutama di DKI Jakarta tinggal hitungan bulan. Bisa dilihat dari PT Mayasari Bakti yang sudah memborong 20 unit bus listrik untuk armada TransJakarta.

Namun ada beberapa poin yang perlu diperhatikan dari kehadiran bus listrik di Indonesia. Salah satunya adalah dari sisi bahaya yang bisa disebabkan dari kendaraan yang menggunakan baterai sebagai sumber tenaganya.

Ahmad Wildan, Senior Investigator Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) berpendapat, sistem kelistrikan pada bus baik konvensional (bermesin diesel) dan bus listrik harus diperhatikan.

Baca juga: Menu SUV Murah di Bawah Rp 200 Juta, Masih Ada Rocky dan Terios

Bus listrik SkywellDOK. DELIMA JAYA Bus listrik Skywell

“Rekomendasi kami terkait kelistrikan bus konvensional saja masih belum dilaksanakan. Sekarang ada bus listrik yang sebenarnya punya dampak yang jauh berbeda ketika bus mengalami masalah kelistrikan,” ucap Wildan kepada Kompas.com, Jumat (6/8/2021).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Wildan menjelaskan, jika bus konvensional mengalami masalah kelistrikan, paling parah bus bisa terbakar. Artinya, peluang korban meninggal dunia sangat kecil, karena ketika ada asap, bisa segera dievakuasi.

“Tapi kalau bus listrik mengalami masalah kelistrikan, bisa saja berdampak pada functional hazard. Misalnya bus tiba-tiba berbelok, tidak bisa berhenti, berhenti mendadak, kehilangan tenaga, dan lainnya,” kata Wildan.

Baca juga: Cara Mudah Cek Besaran Pajak Kendaraan Secara Online

Masalah yang bisa muncul karena kesalahan sistem elektrik tadi bisa menyebabkan korban yang cukup banyak. Belum lagi bagaimana menangani bus listrik yang mengalami kecelakaan, karena tidak bisa disamakan dengan bus biasa.

“Jika ada kabel yang menempel ke bodi karena benturan, maka seluruh bodi bus bisa teraliri listrik. Kalau seseorang memegang bodi tadi, tentu dia bisa terlempar bagai disambar petir,” ucapnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.