Pentingnya Masa Transisi Era Elektrifikasi Kendaraan Bermotor

Kompas.com - 30/07/2021, 11:02 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Dewasa ini program zero emission tampaknya menjadi tujuan terhangat di seluruh negara guna menciptakan masa depan lebih baik dengan tingkat emisi rendah.

Beragam kebijakan baik dari sisi pemerintah maupun perusahaan bahkan kini mulai sejalan dengan harapan tersebut. Tidak terkecuali industri otomotif yang mulai memperkenalkan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (BEV).

"Senang rasanya mendengar bahwa banyak konsumen, pasar keuangan, serta media secara aktif menghargai inisiatif tersebut termasuk di dalamnya terkait perkembangan industri otomotif dan mobilitas," kata seorang praktisi otomotif Pras Ganesh dalam artikelnya, Kamis (29/7/2021).

Baca juga: Masih Lambat, Ini Kendala Penjualan Mobil Listrik di Indonesia

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang (kiri) bersama Ketua MPR yang juga ketua Ikatan Motor Indonesia (IMI) Bambang Soesatyo (kanan) meninjau stan Toyota untuk mobil listrik pada pembukaan IIMS Hybrid 2021 di JiExpo Kemayoran, Jakarta Utara, Kamis (15/4/2021). Pameran otomotif Indonesia International Motor Show (IIMS) Hybrid 2021 yang berlangsung pada 15-25 April itu digelar secara daring (online) dan kunjungan langsung dengan pembatasan kapasitas dan penerapan protokol kesehatan Covid-19.KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG Menteri Perindustrian Agus Gumiwang (kiri) bersama Ketua MPR yang juga ketua Ikatan Motor Indonesia (IMI) Bambang Soesatyo (kanan) meninjau stan Toyota untuk mobil listrik pada pembukaan IIMS Hybrid 2021 di JiExpo Kemayoran, Jakarta Utara, Kamis (15/4/2021). Pameran otomotif Indonesia International Motor Show (IIMS) Hybrid 2021 yang berlangsung pada 15-25 April itu digelar secara daring (online) dan kunjungan langsung dengan pembatasan kapasitas dan penerapan protokol kesehatan Covid-19.

"Tetapi, untuk menyatakan bahwa adopsi BEV merupakan satu-satunya cara yang harus ditempuh, agaknya harus dipertimbangkan lebih luas lagi. Sebab, terdapat banyak aspek yang perlu dibicarakan dan cukup rumit di dalamnya," ucap Ganesh.

Menurut pria yang juga menjabat sebagai Executive Vice President of Toyota Daihatsu Engineering & Manufacturing and Director of Asia Pacific Programs tersebut, setidaknya ada dua aspek yang harus dilihat untuk implementasi BEV.

Pertama ialah well-to-wheel dan siklus emisi pada kendaraan bermotor serta rantai produksinya, dan total jarak yang bisa ditempuh oleh mobil secara agregat.

"Dampak teknologi listrik terhadap perubahan iklim sangat bergantung pada bauran listrik. Studi IEA dan ICCT baru-baru ini menunjukkan bahwa sampai energi terbarukan meningkat jadi porsi yang signifikan dari bauran energi di suatu negara, maka BEV mungkin tidak substansial," kata Ganesh yang juga berstatus Executive Vice President of Toyota Daihatsu Engineering & Manufacturinng dan Director of Asia Pasific Programs, Toyota Mobility Foundation.

Misalnya dalam kasus India, dalam intensitas karbon sektor listrik yang saat ini sebesar 725 gm CO2/kWhr (rata-rata global 510 gm CO2/kWhr), emisi karbon well-to-wheel cenderung lebih baik untuk Strong Hybrid Electric Vehicle (SHEV) daripada BEV.

Baca juga: Hyundai dan LG Energy Solution Bangun Pabrik Baterai di Indonesia

Simulasi pengisian bahan bakar listrik mobil Hybrid BMW i8  saat acara penyerahan kunci di Grand Hyatt, Jakarta, Kamis (20/4/2017). Penyerahan unit pertama kali dilakukan oleh BMW dengan penyerahan kunci secara resmi oleh President Director BMW Group Indonesia Karin Lim kepada pemilik pertamanya.KOMPAS.com/ANDREAS LUKAS ALTOBELI Simulasi pengisian bahan bakar listrik mobil Hybrid BMW i8 saat acara penyerahan kunci di Grand Hyatt, Jakarta, Kamis (20/4/2017). Penyerahan unit pertama kali dilakukan oleh BMW dengan penyerahan kunci secara resmi oleh President Director BMW Group Indonesia Karin Lim kepada pemilik pertamanya.

Situasi ini menjadi lebih nyata jika seluruh siklus produksi dan penggunaan kendaraan, termasuk di proses pengolahan bahan baku, dipertimbangkan.

Jangan sampai dari awal kendaraan diproduksi hingga tidak digunakan lagi atau dihancurkan, terjadi penciptaan emisi serta polusi berlebih. Hal tersebut berlaku juga di seluruh proses R&D, produksi (termasuk manufaktur baterai), sampai distribusi.

"Sayangnya, meskipun mendorong pertumbuhan energi terbarukan sebagian besar negara di Asia masih akan terus bergantung pada bahan bakar fosil, setidaknya dalam beberapa waktu. Ini menunjukkan mobil ramah lingkungan juga harus didorong selama itu," ujarnya.

Baca juga: Alasan Motor Trail Tidak Dilengkapi Kunci Kontak Berpengaman Magnetis

Menggunakan baterai jenis lithium-ion, Lexus UX 300e memiliki motor listrik berkapasitas 54,3 kilowatt per jam (kWh) yang dapat menghasilkan 201 horsepower dan torsi 300 Newton meter (Nm).DOK. LEXUS INDONESIA Menggunakan baterai jenis lithium-ion, Lexus UX 300e memiliki motor listrik berkapasitas 54,3 kilowatt per jam (kWh) yang dapat menghasilkan 201 horsepower dan torsi 300 Newton meter (Nm).

Kedaan ini menggambarkan bahwa kebijakan elektrifikasi pada otomotif harus dianggap sebagai satu kesatuan dengan kebijakan energi suatu negara, untuk mendorong opsi yang paling ramah karbon sesegera mungkin.

Kemudian, aspek kedua yang patut diperhatikan menurut Ganesh ialah jarak tempuh kendaraan secara agregat. Sebab, suatu kendaraan harus mampu dimanfaatkan oleh seluruh lapisan masyarakat.

"BEV yang ditenagai oleh energi terbarukan mungkin cocok digunakan sebagai opsi mobilitas pribadi di dalam kota atau menggunakan rute jarak pendek yang telah ditentukan sebelumnya seperti logistik maupun transportasi umum," ujar dia.

Baca juga: Populasi SPKLU Akselerasi Penjualan Mobil Listrik di Eropa

Pertamina resmikan SPKLU komersial pertamanya di FatmawatiPertamina Pertamina resmikan SPKLU komersial pertamanya di Fatmawati

"Tetapi, segmen pelanggan pribadi untuk kendaraan dimaksud ialah luxury, yang dapat mengakses pengisian daya listrik di rumah. Mengingat, dalam proses pengisian baterai mobil butuh daya besar," tambah Ganesh.

Maka, dalam upaya memaksimalkan perkembangan teknologi dan mencapai lingkungan yang lebih bersih dalam waktu dekat, kendaraan berjenis Plug-in Electric Vehicle (PHEV) menjadi relevan.

Apalagi, biaya yang dibutuhkan tidak begitu besar dibanding persiapan untuk BEV (dari hulu ke hilir). Seiring berjalannya waktu, tentu teknologi juga akan berkembang hingga pada akhirnya mencapai kendaraan nol emisi.

"Jalur elektrifikasi massal tersebut memiliki peluang yang paling realistis untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang beragam, terkhusus di sektor transportasi," kata dia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan Video Lainnya >

27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.