Kecelakaan Fatal, Mantan Bos Jeep Indonesia Tuntut Prinsipal Fiat Chrysler

Kompas.com - 18/07/2021, 13:21 WIB
Kecelakaan Jeep GC di Tol Kanci, Kamis (15/7/2021) Kecelakaan Jeep GC di Tol Kanci, Kamis (15/7/2021)
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Kecelakaan lalu lintas yang melibatkan mobil berjenis sport utility vehicle (SUV) bermerek Jeep Cherokee 3.6L dengan truk kontainer, terjadi di Tol Kanci arah ke Jawa Tengah, Kamis (15/7/2021) sekitar pukul 16.26 WIB.

Dari foto yang dibagikan ke tim redaksi Kompas.com, mobil mewah keluaran Amerika Serikat tersebut nampak hancur pada bagian facia depan hingga tulang samping sebelah kiri.

Bahkan bila sekilas melihatnya, tak nampak lagi kegagahan maupun pesona garang mobil. Hanya bagian belakang yang tampak masih mulus sedia kala.

Baca juga: Pelek Mobil Aftermarket Ori Mahal, Bisa Tengok Pelek Replika

Jeep GC Summit 2015 kecelakaan, Kamis (15/7/2021) Jeep GC Summit 2015 kecelakaan, Kamis (15/7/2021)

Setelah beberapa hari kejadian, baru diketahui bahwa pemilik serta pengemudi mobil terkait ialah mantan bos Garansindo Distributor Indonesia (GDI), Muhammad Al Abdullah atau akrab disapa Memet.

Informasi tersebut dibagikannya secara langsung melalui Facebook pribadi Memet, Minggu (18/7/2021). Ia pun lantas membeberkan kronologi kecelakaan yang terjadi hingga mengajukan tuntuan ke pihak Fiat Chrysler Automobiles (FCA).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Benar, (pengemudi terkait) itu saya. Kejadiannya saya sedang di jalur kanan tol dan di depan ada mobil Toyota Avanza di jalur kanan juga yang secara tiba-tiba ngerem mendadak," kata dia.

"Tetapi sayangnya fitur Active Brake Collision System (ABCS) yang merupakan salah satu fitur keamanan di dalam mobil ini tak berfungsi sebagaimana harusnya sehingga saya menginjak rem manual," lanjut Memet.

Tidak sampai di sana, saat mobil mengalami benturan keras karena stir kemudi terlempar ke kiri setelah dilakukan pengereman mendadak secara penuh alias hard braking, airbag tidak mengembung (aktif).

Untung saja Memet yang sedang berkendara seorang diri masih bisa selamat karena konstruksi mobil yang cukup baik. Ia tidak mengalami luka-luka.

Baca juga: Kemenhub Targetkan Populasi Bus Listrik Mencapai 100 Persen pada 2045

Jeep GC Summit 2015 kecelakaan, Kamis (15/7/2021) Jeep GC Summit 2015 kecelakaan, Kamis (15/7/2021)

"Setelah saya injak rem secara manual semaksimal mungkin, stir secara otomatis terbuang ke kiri. Tapi di kiri itu ada truk kontainer," kata Memet.

"Yasudah bablas, saya menabrak truk tersebut. Saya mengemudi sendiri dan alhamdulillah saya selamat tanpa luka walaupun airbags tidak keluar," kata dia lagi.

Atas kejadian ini, Memet mengajukan tuntutan ke pihak prinsipal Jeep (FCA) karena beragam fitur keamanan canggih dan berlimpah di mobil seperti ABCS dan airbags tidak berfungsi satu pun.

Bila FCA tidak bertanggung jawab, ia pun mengaku akan membawa dan menyelesaikan masalah ini secara hukum.

"Jadi untuk teman-teman semua, secanggih apapun mobil kalian, tidak ada tandingan dengan Doa dan Sholawat sebagai personal guard," ucap Memet.

Untuk diketahui, GDI merupakan distributor Jeep sebelum pada akhirnya diambil alih oleh PT Hascar International Motor (HASCAR). Perusahaan ini juga membawahi Peugeot Motorcycle, Ducati, Volvo, dan Gesits.

Baca juga: Cara Merawat Power Steering Agar Tahan Lama, Jangan Kasar

Ilustrasi kecelakaan lalu lintas.iStock/Kwangmoozaa Ilustrasi kecelakaan lalu lintas.

Rem Mendadak Masih Jadi Momok Tabrakan Beruntun di Tol

Ngerem mendadak sendiri saat ini masih diakui menjadi salah satu penyebab kecelakaan terbesar di jalan tol. Apalagi yang berurusan atau melibatkan kendaraan berat.

Adapun lajur kanan sendiri, sebagaimana dikatakan Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) Sony Susmana, memang lebih berbahaya karena kecepatan kendaraan relatif tinggi.

“Kecepatan kendaraan yang relatif tinggi dan rata-rata kemampuan para pengemudi di Indonesia dalam mengantisipasi masih sangat rendah. Sehingga potensi terjadinya tabrakan juga sangat besar,” ujar Sony saat dihubungi Kompas.com beberapa waktu lalu

Selain itu, kebiasaan pengemudi di Indonesia yang tidak menjaga jarak aman tiga detik dengan kendaraan di depannya membuat potensi tabrakan beruntun semakin tinggi.

Sony mengingatkan, sebaiknya kecepatan kendaraan tidak boleh berlebih dan harus sesuai dengan lajurnya.

“Biasakan gunakan lajur kanan hanya untuk mendahului, maksimal dihitung 20 menit di lajur kanan, kemudian kembali ke lajur semula,” ucapnya.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.