Angkutan Umum Makin Tertekan dengan Penutupan Akses Tol

Kompas.com - 17/07/2021, 09:02 WIB
Suasana terminal bus Kalideres, Selasa (13/4/2021). Kompas.com/Sonya TeresaSuasana terminal bus Kalideres, Selasa (13/4/2021).

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat di Jawa dan Bali yang dilaksanakan sejak 3 Juli kemarin hingga 20 Juli mendatang dirasa kian menekan pengusaha sektor angkutan umum.

Ketatnya syarat perjalanan yang diberlakukan seperti kewajiban menyertakan sertifikat vaksinasi menurunkan mobilitas masyarakat yang berujung menurunnya pendapatan pengusaha transportasi darat.

Hal tersebut kian diperparah dengan bertambahnya titik-titik penyekatan di berbagai wilayah untuk membatasai perpindahan masyarakat. Terlebih mulai Jumat (16/7/2021) berbagai Pemda di Jawa Tengah kompak menutup 27 Exit Tol hingga 22 Juli mendatang.

Baca juga: Nekat Putar Balik, Pengemudi Mobil Ini Harus Bayar Tol 10 Kali Lipat

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Organisasi Angkutan Darat (Organda) Adrianto Djokosoetono menilai rangkaian kebijakan tersebut membuat pengusaha transportasi darat kian tertekan.

Suasana Terminal Tanjung Priok, Jakarta Utara menjelang pembatasan oeprasional Bus AKAP, Selasa (4/5/2021).KOMPAS.COM/ IRA GITA Suasana Terminal Tanjung Priok, Jakarta Utara menjelang pembatasan oeprasional Bus AKAP, Selasa (4/5/2021).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“DPP Organda mengingatkan kembali soal realisasi bantuan dan insentif bagi dunia usaha yang pernah dijanjikan pemerintah lewat Menko Perekonomian beberapa waktu lalu dengan harapan pengusaha transportasi mendapat pinjaman baru (refinancing) dengan bunga murah setelah kebijakan relaksasi cicilan utang berakhir,” kata Adrianto dalam keterangan resminya, Jumat (16/7/2021).

Jika insentif tersebut tidak segera direalisasikan, bisa dipastikan sebagian besar pengusaha transportasi akan sulit bertahan di masa pandemi ini.

Baca juga: Update PPKM Darurat, Mulai Hari Ini 27 Exit Toll Jawa Tengah Ditutup

Ia mengungkapkan bahwa sebelum adanya PPKM Darurat, okupansi angkutan darat baru mencapai 60 persen dari kapasitas normal. Jika situasi kian memburuk dengan adanya berbagai pengetatan mobilitas, dikhawatirkan angka tersebut bisa menurun.

Terminal Terpadu Pulo Gebang di Jakarta Timur. Foto diambil pada Selasa (13/4/2021).KOMPAS.com/NIRMALA MAULANA ACHMAD Terminal Terpadu Pulo Gebang di Jakarta Timur. Foto diambil pada Selasa (13/4/2021).

Adrianto memahami bahwa langkah-langkah yang diambil pemerintah bertujuan baik untuk menekan laju penularan Covid-19. Ia mewakili DPP Organda pun mendukung kebijakan-kebijakan tersebut.

Baca juga: Update Penutupan 15 Akses Jalan Tol di Jabodetabek Jelang Idul Adha

Namun, ia berharap pemerintah memberikan keringanan kepada pelaku di sektor angkutan umum. Misalnya dengan keringanan pajak kendaraan dan kompensasi-kompensasi di dalam biaya langsung kepada kru atau karyawan perusahaan angkutan umum.

Selain itu, Adrianto juga berharap agar pemerintah menindak tegas angkutan liar yang masih bebas beroperasi saat pandemi. Jangan sampai angkutan liar masih bisa mendulang keuntungan tanpa memiliki izin operasional serta tidak mematuhi aturan-aturan perjalanan selama pandemi yang ditetapkan.



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X