Apa yang Harus Dilakukan Pengemudi Truk Saat Rem Blong

Kompas.com - 22/05/2021, 10:42 WIB
Bangkai truk yang menimpa pengendara motor saat dievakuasi dari dalam kali, Senin (8/2/2021). (SURYA.CO.ID/HANIF MANSHURI)Bangkai truk yang menimpa pengendara motor saat dievakuasi dari dalam kali, Senin (8/2/2021).

JAKARTA, KOMPAS.comTruk yang mengalami rem blong memang sering terjadi di Indonesia. Penyebab dari rem blong sebenarnya ada dua, brake fading atau kampas rem overheat dan malfungsi sistem pengereman.

Jika sudah mengalami rem blong, kadang truk menabrakkan kendaraannya ke obyek lain agar bisa menghentikan lajunya. Padahal aksi seperti ini tentunya sangat berbahaya dan bisa menghilangkan nyawa orang lain.

Lalu bagaimana cara aman pengemudi truk untuk mengurangi efek dari truk yang mengalami rem blong?

Baca juga: Awas Salah, Ini Perbedaan Toyota Alphard dan Vellfire

Truk yang mengalami rem blong masuk ke area makamKOMPAS.com/IST Truk yang mengalami rem blong masuk ke area makam

Founder & Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting Jusri Pulubuhu mengatakan, pengemudi truk harus terbiasa mengidentifikasi situasi dan bahaya dari jauh. Salah satu caranya dengan memelihara pandangan sejauh mata memandang.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Dengan demikian, dia bisa memahami situasi kiri dan kanan bahu jalan. Sehingga dalam kasus emergency dia sudah tahu di kiri dan kanannya ada tebing atau lainnya,” ucap Jusri kepada Kompas.com, beberapa waktu lalu.

Jadi jika mengalami rem blong, usahakan pengemudi tidak panik. Kaki juga tidak usah menginjak rem lagi, karena sudah tahu blong, pikirkan cara untuk memperlambat laju truk, misalnya dengan exhaust brake dan engine brake.

Baca juga: 3 Motor Honda yang Disuntik Mati karena Kurang Laku

“Lakukan pengurangan kecepatan dengan exhaust brake, tambah rem sedikit namun tidak lama-lama, lalu ditambah engine brake,” kata Jusri.

Namun, jika dirasa masih kencang kecepatannya, pengemudi harus cari pilihan lain. Perhatikan sisi kanan dan kiri jalan, misalnya dengan diserempetkan ke tebing, ke sawah atau area lain yang sekiranya memiliki tingkat kerugian paling minim.

“Untuk mencegah panik, biasakan mengidentifikasi bahaya dari awal mengemudi. Sehingga dia bisa melakukan perecanaan dari manuver yang dilakukan, bahkan saat kondisi darurat, dia bisa tahu situasi di depannya,” ucapnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.