Beda Jalan Toyota dan Honda Soal Pengembangan Mobil Listrik

Kompas.com - 19/05/2021, 18:01 WIB
Taiwan rajai industri mobil listrik Dok. Pixabay.comTaiwan rajai industri mobil listrik
|

JAKARTA, KOMPAS.com – Dalam konferensi pers yang diselenggarakan baru-baru ini, Toyota dan Honda mengungkapkan perbedaan tajam soal pengembangan mobil listrik pada masa depan.

Dilansir dari Asia Nikkei, Toyota Motor menargetkan sebanyak 8 juta kendaraan listrik terjual pada 2030, dengan tiga perempat di antaranya merupakan mobil hybrid atau plug-in hybrid, dan sisanya mobil listrik berbasis baterai atau fuel cell.

Toyota berkeyakinan bahwa konsep hybrid akan terus berkontribusi pada pengurangan emisi karbon. Pasalnya mobil listrik (EV) sampai saat ini masih mahal dan adanya tantangan soal sebaran stasiun pengisian daya.

Baca juga: Jakarta Kembali Perpanjang PPKM Mikro, Ganjil Genap Belum Berlaku

Lexus UX300e resmi hadir di IndonesiaKompas.com Lexus UX300e resmi hadir di Indonesia

Sementara itu, Honda Motor mengatakan, bahwa mereka hanya akan meluncurkan EV dan kendaraan fuel cell pada 2040.

Pengumuman ini membuat Honda jadi merek otomotif Jepang pertama yang mengumumkan penghentian penggunaan mobil bertenaga bensin, sekaligus menempatkan dirinya sejalan dengan persaingan otomotif global.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Keputusan ini jelas membagi industri otomotif Jepang dalam dua kubu, mana yang realistis dan mana yang lebih layak. Meski kedua perusahaan sebetulnya sama-sama menargetkan zero carbon pada 2050, seperti tujuan pemerintah Jepang.

Baca juga: Ingat, Keluar Masuk Jakarta Tak Perlu Lagi SIKM

Mobil konsep Toyota bZ4XDok. Toyota Mobil konsep Toyota bZ4X

Koichi Sugimoto, analis senior di Mitsubishi UFJ Morgan Stanley Securities, mengatakan, Toyota tengah membangun fondasi dari berbagai teknologi agar tetap fleksibel.

“Karena tren teknologi dan opini publik di masa depan masih belum diketahui,” ucap Sugimoto, dikutip dari Asia Nikkei (19/5/2021).

Sugimoto menjelaskan, industri otomotif telah menghadapi pasang surut dan berbagai terobosan teknologi. Termasuk teknologi mesin diesel, yang meski punya banyak keunggulan, kini perlahan menghilang setelah skandal emisi.

Baca juga: Ini Titik Dongkrak Mobil yang Aman dan Benar

Honda Vezel/HRV e:HEV Zwww.honda.co.jp Honda Vezel/HRV e:HEV Z

Toyota disebut-sebut punya strategi apabila permintaan EV mengalami pergeseran ke teknologi lainnya.

“Pembuat mobil telah menegaskan kembali bahwa konsumenlah yang memilih teknologi apa yang mereka inginkan,” kata Sugimoto.

Tetapi Sanshiro Fukao, rekan senior di Itochu Research Institute, mengatakan, Honda lebih realistis dalam pendekatan ramah lingkungan dan selaras dengan perkembangan zaman.

Baca juga: Video Viral, Parkir Motor di Jalur Penyelamat Menantang Bahaya

Honda e:Prototype yang digadang-gadang menjadi HR-V versi listrikCARSCOOPS.com Honda e:Prototype yang digadang-gadang menjadi HR-V versi listrik

Karena dekarbonisasi melalui kendaraan listrik menjadi dasar pemikiran internasional saat ini untuk mengurangi emisi.

“Ini adalah pertanyaan apakah pembuat mobil dapat menangani peraturan politik luar negeri atau tidak," kata Fukao, dalam kesempatan yang sama.

Pernyataan Fukao merujuk pada aturan Uni Eropa yang menyetujui penilaian total emisi karbon dioksida dari proses pembuatan baterai.

Baca juga: Kapan Kampas Rem Mobil Harus Diganti? Ini Cara Mengeceknya

Ilustrasi baterai pada mobil listrik yang dikemas dalam komponen yang amanelectrec.co Ilustrasi baterai pada mobil listrik yang dikemas dalam komponen yang aman

Uni Eropa juga bersiap untuk memperkenalkan apa yang disebut mekanisme penyesuaian pembatasan karbon dengan menaikkan biaya impor dari negara-negara yang dianggap berbuat terlalu sedikit untuk mengurangi emisi.

Amerika Serikat kabarnya sedang mempertimbangkan untuk mengikuti hal ini. Tak heran jika Honda bergerak maju untuk mengurangi beban ini, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi ekspor dari Jepang.

Fukao juga menambahkan, walaupun penjualan mobil hybrid akan mendapat untung dalam lima tahun mendatang. Namun argumen Presiden Toyota Akio Toyota yang tidak mau terburu-buru dalam penjualan EV, jelas tidak sejalan dengan industri global.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.