Ini Bahayanya Berkendara Pelan di Lajur Kanan

Kompas.com - 21/03/2021, 14:01 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Secara umum, kondisi jalan di Indonesia baik di jalan pemukiman, perkotaan, antar kota dan bebas hambatan terdiri dari beberapa lajur. Biasanya, lajur kiri untuk kendaraan lambat dan kanan untuk yang ingin mendahului.

Aturan ini pun sebenarnya ditulis pada UU Nomor 22 Tahun 2009 Pasal 108 tentang Jalur dan Lajur Lalu Lintas. Ayat ketiga mengatakan, sepeda motor, kendaraan bermotor yang kecepatannya lebih rendah, mobil barang, dan kendaraan tidak bermotor berada pada lajur kiri jalan.

Sedangkan lajur kanan hanya boleh digunakan bagi kendaraan yang lebih cepat, akan belok kanan, mengubah arah atau mendahului kendaraan lain.

Akan tetapi pada kenyataannya di jalan, ada saja yang berkendara dengan kecepatan lambat di lajur kanan.

Baca juga: Catat Tarif dan Cara Mendapatkan Layanan Derek di Jalan Tol

Ilustrasi jalan Tol Trans SumateraIstimewa Ilustrasi jalan Tol Trans Sumatera

Badan Kehormatan Road Safety Association Rio Octaviano mengatakan, pengendalian kecepatan di jalan bebas hambatan maupun jalan antar kota biasanya diisi dengan kendaraan lambat di lajur kiri dan cepat di kanan.

“Untuk jalan antarkota, perkotaan dan pemukiman, tidak ada batas kecepatan paling rendah di luar jalan bebas hambatan,” ucap Rio dalam kuliah Telegram di Indonesia Truckers Club beberapa waktu lalu.

Rio mengatakan, sangat berbahaya jika ada kendaraan lambat di lajur kanan dan bila lajur lambat diisi kendaraan yang lebih cepat. Mengingat di lajur kanan, kendaraan lain umumnya lebih cepat karena ingin mendahului kendaraan di lajur kiri.

Baca juga: Pilihan Sedan Bekas di Bawah Rp 100 Juta, ini Pilihannya

“Ada beberapa potensi bahaya, pertama kendaraan yang mendahului penglihatannya terhalang oleh bus atau truk yang lambat di kanan. Kemudian kendaraan berakselerasi tinggi dan beberapa kendaraan di belakangnya yang tidak jaga jarak,” kata Rio.

Rio juga mengimbau para pengemudi bus dan truk, jangan memakai lajur kanan dalam kondisi pelan atau lambat. Hal ini membuat kendaraan kecil mengalami kesulitan dalam mengantisipasi jika ada situasi di depannya.

Satu orang tewas dalam kecalakaan beruntun di tol Cipali kilometer 84+800, Subang, Jumat (11/9/2020) sekitar pukul 12.35 WIB.HANDOUT Satu orang tewas dalam kecalakaan beruntun di tol Cipali kilometer 84+800, Subang, Jumat (11/9/2020) sekitar pukul 12.35 WIB.

“Saat berkendara, kita wajib memiliki penglihatan paling tidak tiga kendaraan di depan. Bila terhalang, maka antisipasi jadi nol,” ucapnya.

Solusinya, pertama lakukan evaluasi lingkungan setiap saat selama berkendara. Jika merasa lambat dari pengguna jalan lain, segera pindah ke lajur kiri.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.