Kasus Ambulans Terjadi Lagi, Ingat Kendaraan dengan Hak Utama di Jalan

Kompas.com - 29/01/2021, 07:02 WIB
Mobil ambulans mengantre untuk menurunkan jenazah Covid-19 di Taman Pemakaman Umum (TPU) Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan pada Selasa (12/1/2021) siang. Dok. Eagle One JagakarsaMobil ambulans mengantre untuk menurunkan jenazah Covid-19 di Taman Pemakaman Umum (TPU) Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan pada Selasa (12/1/2021) siang.

Jusri menambahkan, pengguna jalan wajib punya empati terhadap ambulans yang tengah bertugas mengantarkan pasien. Mengingat kondisi darurat, upaya memberikan jalan adalah langkah yang tepat. 

Tapi, pengemudi ambulans juga wajib paham dengan Undang-Undang nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ). Menurut Jusri, meskipun mobil ambulans mendapatkan prioritas dalam penggunaan jalan ketika sedang membawa pasien bukan berarti punya hak diskresi.

“Seberapapun daruratnya pasien yang dibawa, mereka (ambulans) tidak punya hak diskresi dalam rekayasa lalu lintas,” kata Jusri.

Kecuali, jika mobil ambulans tersebut dikawal oleh polisi lalu lintas sehingga dia bisa menggunakan jalur yang tidak seharusnya. Artinya, meski ambulans mendapatkan prioritas di jalan, juga tidak boleh semena-mena, tetap harus patuh terhadap rambu lalu lintas, misalnya tidak menerobos lampu merah dan lainnya.

“Ketika pengemudi menerobos lampu merah, melakukan contraflow, masuk jalur busway, (ambulans) tidak punya hak kecuali mereka dikawal oleh polisi lalu lintas,” ucap Jusri.

Baca juga: Ambulans Memang Prioritas, Tapi Bukan Sembarangan Pakai Jalan

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Hanya saja, menurutnya, selama ini masih banyak salah kaprah terkait penggunaan jalan maupun pengawalan. Sehingga, seolah-olah selain polisi lalu lintas, termasuk relawan berhak melakukan pengawalan dan mendapatkan diskresi dalam rekayasa lalu lintas.

“Salah kaprah, kelompok tertentu (relawan) menggunakan jalan di ruang publik seperti pernikahan, kematian, ambulans, mereka tidak boleh. TNI pun yang dilakukan pengawalan juga salah, dan dalam training saya sampaikan kepada mereka,” ucapnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.