Apa yang Harus Dilakukan jika Terjadi Gempa Saat Mengemudi?

Kompas.com - 15/01/2021, 15:11 WIB
Ilustrasi berkendara mobil saat new normal pandemi Covid-19. SHUTTERSTOCKIlustrasi berkendara mobil saat new normal pandemi Covid-19.

JAKARTA, KOMPAS.com - Kondisi bencana alam menuntut sikap yang tepat, terutama saat sedang mengemudikan mobil di jalan raya. Seperti bencana di Majene, Sulawesi Barat, Jumat (15/1/2021) dini hari pukul 02.28 Wita.

Saat terjadi gempa, cukup banyak kepanikan di jalan raya yang dilakukan pengemudi kendaraan dan ini membahayakan bagi pengemudi dan lingkungan sekitar.

Baca juga: Kapan Motor Listrik Elbike Bima Enduro Diproduksi Massal?

Menurut Training Director Safety Defensive Consultant Sony Susmana, tidak panik adalah peraturan pertama saat terjadi bencana seperti gempa ketika mengemudi.

“Pengemudi wajib awas dengan kondisi sekeliling untuk kemudian memutuskan langkah yang tepat dan cepat dalam mencari tempat aman,” ujar Sony kepada Kompas.com, Jumat (15/1/2021).

Sony mengungkapkan, dalam mengemudi ketika ada bencana, pengemudi bertanggung jawab terhadap penumpang. Tugas dalam mengemudi tidak boleh terganggu dengan panik atau hal lain, seperti sibuk dengan telepon genggam.

Suasana kepadatan kendaraan dari arah Garut dan Tasikmalaya menuju Gerbang Tol Cileunyi terjadi di Cipacing, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Minggu (1/11/2020). Kepala Bagian Operasi Korps Lalu Lintas Polri Komisaris Besar Rudi Antariksawan mengatakan, puncak arus balik libur panjang cuti bersama menuju Jakarta di berbagai daerah akan terjadi pada Minggu (1/11/2020) malam ini.ANTARA FOTO/RAISAN AL FARISI Suasana kepadatan kendaraan dari arah Garut dan Tasikmalaya menuju Gerbang Tol Cileunyi terjadi di Cipacing, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Minggu (1/11/2020). Kepala Bagian Operasi Korps Lalu Lintas Polri Komisaris Besar Rudi Antariksawan mengatakan, puncak arus balik libur panjang cuti bersama menuju Jakarta di berbagai daerah akan terjadi pada Minggu (1/11/2020) malam ini.

Lantas, apakah pengemudi dan penumpang perlu keluar dari mobil mereka?

Menurut Sony, berada di dalam mobil merupakan pilihan paling aman, tentu setelah tiba di tempat yang dinilai cukup aman dari gangguan.

“Kalau melihat instruksi saat gempa kan mencari perlindungan di bawah meja atau berlari ke area terbuka. Berada di dalam mobil yang sudah di desain dengan konstruksi yang kuat tentu akan melindungi. Dilihat juga gempanya seperti apa, tetap fokus dan jangan langsung keluar dari mobil,” kata Sony.

Baca juga: Pemerintah Indonesia Protes ke Filipina Soal Bea Masuk Ekspor Mobil

Setelah berada di dalam mobil dan melakukan evaluasi sekeliling, pengemudi memutuskan apakah aman untuk keluar. Kondisi terbilang aman ini tentu di tempat yang jauh dari potensi tertimpa benda-benda lain, seperti gedung tinggi, tiang listrik, dan baliho.

Ketika dilihat aman, silakan keluar. Hal yang dilakukan pertama adalah mematikan mesin, baru membuka safety belt. Ini untuk berjaga-jaga siapa tahu gempa akan datang lebih besar.

“Pengemudi jadi pengambil keputusan apakah dia harus keluar atau tetap di dalam mobil. Jangan memutuskan berhenti di pinggir jalan karena potensi bahaya masih banyak. Begitu sadar ada gempa dan bencana alam segera search, evaluate, execution mencari tempat aman sembari tetap fokus berkendara,” kata Sony.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X