Upaya Indonesia Jadi Produsen Kendaraan Listrik Global

Kompas.com - 13/01/2021, 14:21 WIB
Ilustrasi kendaraan listrik stanlyIlustrasi kendaraan listrik
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Dewasa ini pemerintah tengah berupaya untuk menjadikan Indonesia sebagai pemain utama pada era kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) dunia.

Hal tersebut dibuktikan melalui terbitnya Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 terkait percepatan penggunaan kendaraan listrik sebagai transportasi jalan yang diikuti oleh beberapa aturan turunan lainnya.

Di samping itu, berbagai pemain utama pada industri terkait pun tengah didekati untuk dapat melakukan investasi berkelanjutan di Tanah Air, mulai Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL), LG Energy Solution, Panasonic, Hyundai Motors Corporation, sampai Tesla.

Baca juga: Transjakarta Bebaskan Operator Memilih Bus Listrik yang Akan Dipakai

Pertamina resmikan SPKLU komersial pertamanya di FatmawatiPertamina Pertamina resmikan SPKLU komersial pertamanya di Fatmawati

Ketua Tim Percepatan Proyek Baterai Kendaraan Listrik (Electric Vehicle/ EV Battery) Agus Tjahajana Wirakusumah, mengatakan, untuk menjadi produsen baterai kendaraan listrik terbesar, Indonesia harus mencari pasar-pasar terbesar.

Kini, pasar terbesar dimaksud ialah China, Eropa, dan Amerika. Sehingga jika ingin menjadi pemain global maka industri otomotif nasional harus mampu masuk ke sana.

"Bila dilihat, jika ingin menjadi pemain global ya harus masuk ke pasar itu. Caranya banyak, seperti menggandeng pemain baterai yang menjual ke sana," paparnya belum lama ini.

Agus menambahkan, sejak tim percepatan dibentuk oleh Menteri BUMN pada Februari 2020 lalu, pihaknya sudah membuat perencanaan untuk memilih calon mitra.

Baca juga: Anomali Mobil Elektrifikasi di Tengah Pandemi

Ilustrasi baterai untuk mobil elektrifikasiSHUTTERSTOCK/ROMAN ZAIETS Ilustrasi baterai untuk mobil elektrifikasi

Kriteria yang dilihat oleh tim berdasarkan kemampuan, rekam jejak, keinginan untuk investasi, dan brand image di kancah internasional.

"Dari kita ada 11 pemain baterai besar di dunia dan bisa keluar enam. Kemudian, baru tiga yang sejalan yakni perusahaan asal China CATL, Korea Selatan LG, serta Jepang dengan Panasonic," ujar Agus.

"Mitra kami melihat betapa besar market Indonesia dan sesuai hitungan yang ada di kami serta tim dengan melihat proyeksi yang dilakukan Kementerian Perindustrian," tambahnya.

Adapun hitungan Kemenperin, diproyeksikan pada 2025 mendatang akan ada sekitar 400 ribu unit kendaraan listrik di Indonesia. Perhitungan ini menurutnya masih dianggap kecil bagi pabrik baterai berskala internasional.

Baca juga: Ini Daftar Tempat Ngecas Kendaraan Listrik di Indonesia

Pertamina resmikan SPKLU komersial pertamanya di FatmawatiPertamina Pertamina resmikan SPKLU komersial pertamanya di Fatmawati

"Oleh karena itu, kita harus mengekspor kelebihan daripada kapasitas di hulu. Jadi, harus ada balance capacity dari hulu sampai hilir," tuturnya.

Pemerintah sendiri telah melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan LG Energy Solution untuk membangun pabrik baterai senilai 9,8 miliar dollar AS atau sekitar Rp 142 triliun di penghujung tahun lalu.

Kemudian melanjuti kerjasama tersebut, dalam waktu dekat akan ada penandatanganan Heads of Agreement (HoA) oleh konsorsium BUMN yang tergabung dalam Holding Indonesia Battery, MIND ID, PT Aneka Tambang, PT Pertamina (Persero), dan PT PLN (Persero).



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X