Era Mobil Listrik, Industri Otomotif Jepang Bisa Kehilangan Daya Saing

Kompas.com - 01/01/2021, 08:02 WIB
Logo Toyota PaultanLogo Toyota

JAKARTA, KOMPAS.com – Peralihan cepat industri otomotif Jepang ke teknologi listrik telah membuat khawatir produsen otomotif. Sebelumnya, Jepang telah berencana menghentikan penjualan mobil dengan mesin konvensional pada 2030.

Hal ini dilakukan karena tren kendaraan listrik yang mulai mengakar di seluruh dunia. Beberapa negara di Eropa, seperti Inggris dan Belanda juga telah melarang mobil bermesin konvensional pada tahun tersebut.

Terlebih revolusi kendaraan listrik telah memberi produsen mobil AS Tesla kapitalisasi pasar yang lebih besar daripada Toyota Motor. Sementara perusahaan China seperti CATL telah memimpin pasar untuk baterai EV.

Baca juga: Kaleidoskop 2020: Gempuran Merek Non-Jepang di Pasar Otomotif Nasional

Sasis, baterai, motor listrik pada mobil listrik murni (BEV) Toyota, Lexus UX 300e.Toyota Sasis, baterai, motor listrik pada mobil listrik murni (BEV) Toyota, Lexus UX 300e.

Langkah ini rupanya mendapat kritikan dari sejumlah eksekutif merek otomotif Jepang. Presiden Toyota Akio Toyoda, yang menjadi ketua Asosiasi Produsen Mobil Jepang, mengatakan, peralihan cepat ke kendaraan listrik dapat melumpuhkan industri mobil.

Untuk diketahui, produsen otomotif Jepang berhasil menghasilkan jutaan mobil yang menggunakan mesin bakar internal tiap tahunnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Menurut Toyoda, peralihan dari mesin bertenaga bensin ke kendaraan berteknologi listrik dinilai terlalu tergesa-gesa.

Baca juga: Kaleidoskop 2020: Gempuran Merek Non-Jepang di Pasar Otomotif Nasional

Mobil-mobil produksi PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, saat tiba di dermaga Car Terminal,  Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (10/6/2015). Mobil-mobil ini akan diekspor ke sejumlah negara, antara lain di Timur Tengah.KOMPAS.com / RODERICK ADRIAN MOZES Mobil-mobil produksi PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, saat tiba di dermaga Car Terminal, Tanjung Priok, Jakarta, Rabu (10/6/2015). Mobil-mobil ini akan diekspor ke sejumlah negara, antara lain di Timur Tengah.

Toyoda juga mengatakan, struktur industri Jepang selama ini didasarkan pada produksi kendaraan konvensional. Hal ini bahkan telah menjadi pendorong di kala ekonomi tengah sulit.

Di samping itu, sebagian besar listrik Jepang saat ini masih dihasilkan dengan membakar fosil. Tentu hal ini masih jauh dari rencana jangka panjang zero emission.

“Saya tidak dapat melihat ini tercapai tanpa inovasi teknologi yang inovatif,” ujar Toyoda, seperti dilansir dari Nikkei (30/12/2020).

“Dan kita dapat mengambil risiko kehilangan daya saing internasional kita kecuali jika seluruh rantai pasokan mencoba untuk beralih,” katanya.

 Baca juga: Fenomena Tren Baru, Banyak Karoseri Merombak Desain Jadi Model Jetbus

Ilustrasi: Pekerja pabrik Toyota di Jepang.www.japantimes.co.jp Ilustrasi: Pekerja pabrik Toyota di Jepang.

Nikkei juga melaporkan, selama ini kontribusi mobil bermesin konvensional menyumbang 60 persen penjualan di Jepang.

Sementara lebih dari 30 persen merupakan mobil hybrid, dan hanya 1 persennya adalah plug-in hybrid, EV murni, serta fuel cell.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.