Sering Diabaikan, Ngebut di Jalan Tol Tingkatkan Risiko Kecelakaan

Kompas.com - 07/12/2020, 17:01 WIB
PT Jasamarga Tollroad Maintenance (JMTM) memulai perbaikan jembatan dan pekerjaan rekonstruksi perkerasan pada akses masuk Gunung Putri Ruas Tol Jagorawi mulai Minggu (27/9/2020) hingga Jumat (2/10/2020). Jasa MargaPT Jasamarga Tollroad Maintenance (JMTM) memulai perbaikan jembatan dan pekerjaan rekonstruksi perkerasan pada akses masuk Gunung Putri Ruas Tol Jagorawi mulai Minggu (27/9/2020) hingga Jumat (2/10/2020).
Penulis Ari Purnomo
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Mengendarai kendaraan bermotor sudah sewajibnya mematuhi setiap rambu lalu lintas yang ada, termasuk batas kecepatan.

Tidak hanya di jalan raya, aturan batas kecepatan juga diterapkan di jalan bebas hambatan atau jalan tol.

Hal ini salah satunya untuk menjaga agar pengemudi bisa nyaman dan aman selama melintas di ruas tol.

Akan tetapi, meski sudah dipasang rambu batas kecepatan masih banyak pengemudi yang nekat memacu kendaraannya hingga melebihi batas kecepatan yang diperbolehkan.

Baca juga: Ini 14 Provinsi yang Bebaskan Denda Pajak Kendaraan Jelang Akhir 2020

Kondisi jalan yang lengang menjadi salah satu alasan bagi para pengendara hingga memilih ngebut ketika melintasinya.

Ilustrasi berkendara mobil di jalanTelegraph Ilustrasi berkendara mobil di jalan

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Training Director The Real Driving Center (RDC) Marcell Kurniawan mengatakan, memacu mobil dengan kecepatan tinggi hingga melebihi batas kecepatan yang diperbolehkan di jalan tol sangatlah berbahaya. Meskipun, kondisi jalanan yang dilintasi sedang lengang atau minim kendaraan.

“Ngebut di jalan tol sangat berbahaya, karena saat kita memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi maka risiko terjadinya kecelakaan lalu lintas juga akan semakin meningkat,” kata Marcell Kompas.com, Senin (7/12/2020).

Hal ini karena, Marcell menambahkan, ketika memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi atau melampaui batas kecepatan bisa menyebabkan pandangan pengemudi menjadi tunnel vision.

Baca juga: Ingat, Penghapusan Denda Bukan Berarti Bebas Pajak Kendaraan

“Yaitu di mana fokusnya (pandangan pengemudi) hanya pada satu titik di depan saja, sedangkan pandangan kanan kiri menjadi blur (tidak jelas),” ujarnya.

Dalam kondisi tersebut, ketika ada pengendara lain yang masuk di jalur yang sama bisa membuat pengemudi kaget. Pengemudi pun bisa melakukan tindakan reflek yang membahayakan.

Ilustrasi kecelakaannastenkapeka Ilustrasi kecelakaan

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.