Fatalitas Kecelakaan di Jalan Tol Tinggi, Ini Penyebabnya

Kompas.com - 05/12/2020, 17:12 WIB
Karangan bunga di depan rumah Rafi, korban kecelakaan Tol Cipali, di kawasan Cipinang, Selasa (18/6/2019). KOMPAS.com/Ardito Ramadhan DKarangan bunga di depan rumah Rafi, korban kecelakaan Tol Cipali, di kawasan Cipinang, Selasa (18/6/2019).
Penulis Ari Purnomo
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Fatalitas kecelakaan lalu lintas yang terjadi di ruas tol cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan di jalan raya.

Kondisi ini terlihat berdasarkan jumlah korban yang diakibatkan dari insiden tersebut, di mana seringkali menimbulkan korban meninggal di lokasi kejadian.

Seperti yang terjadi di ruas tol Cipali beberapa waktu lalu dengan jumlah korban meninggal dunia mencapai 10 orang. 

Menurut Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) Sony Susmana hal tersebut disebabkan dua faktor utama.

Baca juga: Ini 14 Provinsi yang Bebaskan Denda Pajak Kendaraan Jelang Akhir 2020

Pertama, adalah kurang tegasnya penegakan hukum terhadap pelanggar lalu lintas selama ini. Selain itu juga cara berkendara yang semakin mengesampingkan aspek keselamatan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sebuah kecelakaan beruntun terjadi di Veria, Yunani pada 5 Oktober 2014Ververidis Vasilis/Shutterstock Sebuah kecelakaan beruntun terjadi di Veria, Yunani pada 5 Oktober 2014

“Jumlah kecelakaan lalu lintas dari tahun ke tahun naik turun, tapi fatalitasnya bertambah, ini terjadi akibat dari dua hal, pertama kurang tegasnya penegakan hukum dan cara pengemudi dalam berpikir (artinya mengutamakan ego dengan mengesampingkan keselamatan atau nyawa),” kata Sony kepada Kompas.com, Sabtu (5/12/2020).

Sony menambahkan, kurang tegasnya penindakan ini seperti yang terjadi akhir-akhir ini. Di mana masyarakat yang melakukan pelanggaran justru berani berdebat, bahkan hingga main fisik terhadap petugas.

“Kita lihat belakangan ini, banyak sekali postingan-postingan di media-media sosial, masyarakat sebagai pelanggar kadang dilepaskan dengan pertimbangan sosial, kadang berani berdebat, kadang memaki-maki bahkan main fisik dengan petugas,” ujarnya.

Baca juga: Ingat, Penghapusan Denda Bukan Berarti Bebas Pajak Kendaraan

Menurutnya, hal itu menjadi preseden buruk dalam pembelajaran dan penegakan hukum, petugas dimata mereka dianggap sebelah mata.

Ilustrasi kecelakaan mobil.SHUTTERSTOCK Ilustrasi kecelakaan mobil.

“Memang terlihat sepele, tapi dampaknya besar, terhadap perilaku pengemudi kedepannya. Itu kenapa semakin hari pengemudi semakin berani di jalan raya, karena ada celah untuk berulah, toh nanti bisa minta maaf atau damai,” tuturnya.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.