Anggota Klub Moge Keroyok Prajurit TNI, Hindari Konvoi Cerminan Arogansi

Kompas.com - 01/11/2020, 07:12 WIB
Penulis Ari Purnomo
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengeroyokan dua prajurit TNI yang dilakukan oleh sejumlah anggota klub motor gede di kawasan Simpang Tarok, Bukittinggi, Sumatera Barat, Jumat (30/10/2020) memperlihatkan arogansi anggota klub saat melakukan konvoi.

Meski pelaku sudah diproses secara hukum, tetapi aksi yang tidak terpuji tersebut tentunya menjadi preseden buruk anggota klub motor yang selama ini sering melakukan touring.

Lalu kenapa konvoi sering melakukan arogansi saat di jalan raya?

Sony Susmana, Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), mengatakan, arogansi yang dipertontonkan oleh anggota klub Harley Davidson tersebut sangat disayangkan.

Baca juga: Blokir STNK yang Mati 2 Tahun Segera Diberlakukan

Perselisihan terjadi antar annggota klub moge dengan dua anggota TNI yang bertugas di Kodim 0304 Agam.

Ilustrasi konvoi motor Kompas.com Ilustrasi konvoi motor

“Kejadian itu sangat disayangkan dan bikin malu, artinya secara tidak langsung sudah mencoreng nama besar klub tersebut,” kata Sony kepada Kompas.com, Sabtu (31/11/2020).

Sony menilai, sikap arogansi anggota klub motor saat konvoi disebabkan oleh beberapa hal. Di antaranya, pengawalan dari petugas atau voorijder.

Adanya petugas yang membuka jalan membuat anggota konvoi merasa seolah pengguna jalan lain harus minggir atau mengalah.

Baca juga: Blokir STNK Segera Berlaku, Pelajari Regulasinya

“Adanya petugas yang membuka jalan sehingga mereka merasa semuanya harus mengalah dan kadang melanggar aturan lalu lintas, ini banyak contohnya dan bikin malu,” ujarnya.

Kemudian, Sony melanjutkan, penyebab lainnya karena merasa kendaraan yang digunakan spesial. Seperti diketahui, harga motor Harley Davidson tidaklah murah harganya bahkan bisa mencapai lebih dari Rp 500 juta.

“Karena merasa kendaraannya sangat spesial secara fisik, mesin maupun harga membuat mereka merasa lebih dari yang lain. Sehingga merasa harus mendapatkan prioritas,” ucap Sony.

Ilustrasi Berkendara Sepeda Motor di Musim HujanShutterstock Ilustrasi Berkendara Sepeda Motor di Musim Hujan

Dan penyebab yang lainnya adalah kurangnya toleransi dari anggota klub motor gede tersebut terhadap orang lain atau pengguna jalan yang ada.

Menurut Sony, pemilik moge bisa dikategorikan bukanlah orang sembarangan. Dengan harga yang cukup fantastis tentunya pemilik harley adalah orang yang berkecukupan bahkan bisa disebut kaya.

“Pemilik kendaraan tersebut rata-rata orang berada, sehingga kurang bertoleransi dengan yang lain,” ucapnya.

Baca juga: Blokir STNK yang Mati 2 Tahun Akan Berlaku di Seluruh Indonesia

Menurut Sony, saat touring di jalan raya penting sekali bagi peserta untuk paham berbagi, menggunakan fasilitas jalan dan tujuan dari berkendara juga harus jelas.

“Kalau mau konvoi atau riding cuma untuk pamer, sebaiknya berpikir dua kali, ingat nama besar klub harusnya dijaga dan dijadikan contoh baik dalam berlalu lintas, sehingga masyarakat simpatik dengan perilakunya,” katanya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.