Pahami Pentingnya Hubungan Kecepatan dengan Jarak Pengereman

Kompas.com - 01/07/2020, 15:01 WIB
Batas kecepatan maksimal di Tol Layang Jakarta-Cikampek IstimewaBatas kecepatan maksimal di Tol Layang Jakarta-Cikampek

JAKARTA, KOMPAS.com - Banyak pengguna kendaraan, baik mobil atau motor, yang senang memacu kecepatan di jalan raya. Padahal, di setiap jalan sudah ditentukan kecepatan maksimal yang seharusnya dipatuhi.

Sayangnya, banyak yang tidak paham hubungan antara kecepatan dengan jarak pengereman. Mengemudikan kendaraan terlalu cepat, semakin mempertinggi risiko terjadinya kecelakaan.

Baca juga: Tips Aman Mengemudi di Tol Layang Japek, Jaga Kecepatan Kendaraan

Sebab, semakin cepat kendaraan dipacu, jarak pengereman akan semakin jauh. Belum lagi jika ditambah dengan kondisi jalan yang licin. Sehingga, semakin kecil kemungkinan bisa menghindari objek yang menghalangi jalannya.

Fitur pengereman otomatis pada Honda Accord terbaruKompasOtomotif - AFH Fitur pengereman otomatis pada Honda Accord terbaru

Jusri Pulubuhu, Chief Instructor Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), jarak pengereman ditentukan oleh banyak faktor. Setidaknya, ada tujuh faktor penentunya.

"Pertama, kondisi permukaan jalan, entah itu jalan dalam kondsi basar atau kering," ujar Jusri, kepada Kompas.com, beberapa waktu lalu.

Kedua adalah kondisi ban. Semakin ban botak atau tidak sempurna kembangannya, membuat lebih rendah gesekannya.

Baca juga: Mobil Lama Tak Bergerak, Awas Penyakit pada Sistem Pengereman

“Ketiga, jenis rem yang digunakan. Antara mobil satu dan mobil lainnya, memiliki sistem pengereman atau jenis rem yang berbeda, ini akan ikut mempengaruhi jarak pengereman pula,” kata Jusri.

Jusri menambahkan, keempat adalah bobot kendaraan, mobil atau sepeda motor. Kelima, cuaca. Lalu, yang keenam, waktu pengereman.

Sistem pengereman darurat Bosch, mendeteksi adanya pesepeda atau pejalan kaki.Istimewa Sistem pengereman darurat Bosch, mendeteksi adanya pesepeda atau pejalan kaki.

"Ketujuh adalah lokasi pengereman, ini dihitung berdasarkan tingkat ketinggian daratan dari permukaan laut. Di mana melakukan pengereman di daerah puncak dengan di Jakarta akan berbeda, karena pengaruh dari gaya gravitasi,” ujar Jusri.

Jusri melanjutkan, jarak pengereman juga ditentukan oleh waktu reaksi, di mana terdiri dari dua jenis. Reaksi manusia (1 detik) dan mekanik atau sistem rem (0,5 detik) yang jika dibulatkan dalam dunia safety, menjadi total 2 detik.

"Kondisi ini juga dipengaruhi beberapa faktor. Usia, di mana semakin tua usianya (di atas 50 tahun) maka akan lebih lama waktu reaksinya. Selain itu, kondisi fisik pengemudi. Lalu, ditentukan oleh gangguan mental, di pekerjaan atau di rumah tangga. Terakhir, pengaruh obat atau alkohol," kata Jusri.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X