Masyarakat dan Operator Transportasi Harus Adaptasi Kebiasaan Baru

Kompas.com - 07/06/2020, 15:21 WIB
Sejumlah penumpang menaiki bus Transjakarta di Jakarta, Selasa (17/3/2020). PT Transjakarta akan menambah rute perjalanan menjadi 123 rute dan menambah jam operasional, hal ini untuk mengurangi antrean panjang yang terjadi di beberapa halte pada Senin (16/3/2020) kemarin. ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYATSejumlah penumpang menaiki bus Transjakarta di Jakarta, Selasa (17/3/2020). PT Transjakarta akan menambah rute perjalanan menjadi 123 rute dan menambah jam operasional, hal ini untuk mengurangi antrean panjang yang terjadi di beberapa halte pada Senin (16/3/2020) kemarin.
Penulis Stanly Ravel
|

JAKARTA, KOMPAS.com – Kementerian Perhubungan ( Kemenhub) akan menyiapkan sistem transportasi yang berkonsep higienis dan humanis. Hal ini dilakukan untuk menghadapi masa adaptasi new normal.

Menteri Perhubungan ( Menhub) Budi Karya Sumadi mengatakan, dalam menghadapi adaptasi kebiasaan baru atau new normal, yang diutamakan adalah aspek kesehatan dan ekonomi.

"Untuk itu kita harus membangun transportasi yang lebih higienis, humanis, dan tentunya less contact, yang memberikan solusi dan manfaat bagi rakyat banyak," ucap Budi, dalam keterangan resminya, Sabtu (6/6/2020).

Budi menjelaskan, transportasi publik yang dahulu menjadi moda dan sarana berkumpul dan berkegiatan, kini harus berubah dengan mengutamakan aspek kesehatan dalam rangka mencegah penularan Covid-19.

Baca juga: Penumpang Transportasi Umum Dibatasi, Organda Usul Tambah Armada

Para pengguna dan operator, harus bisa beradaptasi dengan adanya kebiasaan baru melalui prosedur dan protokol yang berbasis pada kesehatan, kebersihan, juga physical distancing.

kabin bus akaphaltebus.com kabin bus akap

Misalnya seperti wajib mengenakan masker dalam bertransportasi juga menjaga jarak antar penumpang.

Kedua hal tersebut menurut Budi akan menjadi sebuah budaya baru, namun untuk melakukan itu semua memang diperlukan pemikiran yang mendasar dan mendalam dari masing-masing individu.

Budi menjelaskan, adaptasi kebiasaan baru memiliki setidaknya dua keuntungan. Pertama protokol kesehatan yang akan menjaga Indonesia dari ancaman pandemi (berkelanjutan).

Kedua, mendukung keberlangsungan negara dari berbagai sisi dan mencegah berbagai masalah baru, seperti krisis fiskal, ketahanan pangan, dan gangguan sistem pendidikan.

"Namun tantangan dalam melakukan adaptasi kebiasaan baru di sektor transportasi pasti ada. Dalam penerapan protokol kesehatan dan physical distancing pastinya akan berimplikasi pada meningkatnya cost operasional transportasi, karena okupansi tidak 100 persen. Ini yang harus segera kita cari solusinya," ujar Budi.

Baca juga: Kecuali Ojol, Aturan Ganjil Genap Bakal Berlaku untuk Motor Pribadi

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X