Ingat, Lampu Hazard Bukan Indikator Jalan Lurus di Persimpangan!

Kompas.com - 02/03/2020, 08:22 WIB
perempatan Kompas.com/Fathan Radityasaniperempatan

JAKARTA, KOMPAS.comLampu hazard merupakan fitur wajib yang ada pada mobil, bahkan terpasang diberbagai motor. Fungsi hazard sebenarnya yaitu sebagai penanda kendaraan dalam keadaan darurat.

Ada beberapa salah kaprah yang dilakukan oleh pengemudi di Indonesia dalam menggunakan lampu hazard di persimpangan jalan. Paling sering, pengemudi menyalakan lampu hazard, sebagai indikator karena mau berjalan lurus, pada persimpangan jalan, baik pertigaan maupun perempatan, tanpa Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas (APILL) atau lampu merah.

Sony Susmana, Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), mengatakan, budaya menyalakan lampu hazard ketika berjalan lurus di perempatan, tidak jelas dasarnya dari mana. Kebiasaan ini bisa terjadi karena kesalahan dalam penerapan operasionalnya.

Baca juga: SUV Murah Suzuki XL7 Sudah Terjual 1.200 Unit

Ilustrasi lampu hazardautorepairschaumburgil.com Ilustrasi lampu hazard

“Pemahaman tentang keselamatan itu meliputi operasional kendaraan yang benar, tidak boleh berdasarkan ucapan orang. Seperti gunakan hazard ini kan tidak jelas siapa yang menggagas, malah jadi kebiasaan yang salah dan membahayakan,” kata Sony kepada Kompas.com, Minggu (1/3/2020).

Bahaya menggunakan lampu hazard di perempatan yaitu pengemudi lain tidak dapat membaca arah kendaraan ingin ke mana dan bisa terjadi kesalahan komunikasi. Ketika komunikasi tidak jelas, bisa terjadi kecelakaan.

“Perempatan adalah tempat bertemunya kendaraan dari arah yang berbeda-beda. Harus ada komunikasi antar kendaraan, seperti menyalakan lampu penunjuk arah atau sein jika ingin berbelok. Jika ingin lurus bukan berarti menyalakan hazard,” ucap Sony.

Baca juga: Hati-hati, Mobil Bisa Jadi Rumah buat Makhluk Lain

Seperti yang dikatakan Jusri Pulubuhu, Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Penggunaan lampu hazard itu dilarang ketika kendaraan sedang dinamis atau bergerak. Jika dinyalakan hanya membuat pengguna jalan lain bingung.

“Penggunaan lampu hazard hanya boleh ketika kendaraan dalam kondisi yang darurat. Misalnya mogok atau berhenti di pinggir jalan, boleh nyalakan hazard,” ucap Jusri kepada Kompas.com bebearapa waktu lalu.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X