Kompas.com - 13/02/2020, 10:42 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Maraknya kecelakan yang belakangan ini terjadi di dominasi oleh kendaraan besar seperti truk atau bus. Penyebabnya beragam, bisa karena rem yang blong atau pengendara lain yang tidak sabar dan segera ingin menyalip truk yang berjalan pelan.

Menurut Sony Susmana selaku Training Director Safety Defensive Consultant, ketika berkendara di jalan tol kendaraan besar sebenarnya sudah disediakan lajur sendiri yaitu di lajur satu atau paling kiri.

Kendaraan besar hanya boleh dilajur dua pada saat menyusul, kemudian kembali lagi ke jalur satu.

Baca juga: Esemka dan AMMDes Masih Absen dari Daftar Peserta IIMS 2020

“Namun, faktanya banyak pengemudi mobil besar yang bandel, mereka menggunakan lajur dua atau bahkan lajur tiga,” ujar Sony kepada Kompas.com di Jakarta, Rabu (12/02/2020)

Semakin besar postur kendaraan, maka akan semakin luas pula blind spot. Sony menjelaskan sebaiknya menghindari dan tidak terlalu dekat dengan kendaraan besar jenis bus atau truk.

“Selain blind spot, banyak faktor yang bisa membuat kendaraan besar ini melakukan kesalahan seperti kendaraannya yang kurang terawat, ataupun pengemudinya yang sudah capek sehingga tidak fokus dalam mengemudi,” kata Sony.

Sejumlah kendaraan melintasi ruas jalan Tol Jakarta-Cikampek arah Cikampek, di kawasan Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Jumat (19/4/2019). Kepala Departemen Komunikasi Jasa Marga mengatakan telah menyiapkan rencana sejumlah antisipasi kepadatan kendaraan di Tol Jakarta-Cikampek dalam menghadapi arus mudik 2019, salah satunya yakni mendorong pengendara mengunjungi destinasi wisata dan kuliner di sepanjang keluar Tol Trans Jawa. ANTARA FOTO/Risky Andrianto Sejumlah kendaraan melintasi ruas jalan Tol Jakarta-Cikampek arah Cikampek, di kawasan Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Jumat (19/4/2019). Kepala Departemen Komunikasi Jasa Marga mengatakan telah menyiapkan rencana sejumlah antisipasi kepadatan kendaraan di Tol Jakarta-Cikampek dalam menghadapi arus mudik 2019, salah satunya yakni mendorong pengendara mengunjungi destinasi wisata dan kuliner di sepanjang keluar Tol Trans Jawa.

Baca juga: Begini Kondisi Ruas Tol Cipularang Pasca-longsor

Menurut Sony kendaraan kecil akan lebih aman jika berada di belakang kendaraan besar.

“Ketika ada kejadian rem blong atau kendaraan tersebut slip, takutnya mobil kecil akan dijadikan bemper untuk berhenti. Tetapi kalau ditanjakan lebih baik kita berada di depan kendaraan besar,” ujar Sony.

Pendapat ini diamini Juri Pulubuhu selaku Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC). Menurutnya sebagai pengendara harus selalu mendeteksi bahaya yang ada disekeliling baik didepan kendaraan maupun dibelakang.

Tindakan paling mudah dan aman dilakukan adalah dengan menghindar.

“Menghindar itu bisa melaju atau membiarkan kendaraan besar tersebut melewati kita, sebab kendaraan besar memiliki kemampuan yang berbeda dalam masalah pengereman, sehingga akan sangat berbahaya jika terlalu dekat dengan kendaraan besar tersebut,” ujar Jusri kepada Kompas.com.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.