Dibanding Mobil Listik, Honda Pilih Hybrid Sebagai Awalan

Kompas.com - 24/01/2020, 13:43 WIB
Penulis Stanly Ravel
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Meski jarang membicarakan soal kendaraan listrik, bukan berarti PT Honda Prospect Motor (HPM) tinggal diam.

Selama ini Honda menggaku sudah memiliki beberapa produk elektrifikasi, namun langkah strateginya masih terhalang aturan teknis yang tak kunjung keluar.

"Banyak sekali line-up Honda yang bisa dielektrifikasi, tapi juknis ini belum keluar. Juknis itu penting, produk elektrifikasi harus cocok dengan konsumen Indonesia, karena itu bisa sembarangan," ucap Yusak Billy, Business Innovation and Sales & Marketing HPM, saat berbincang kepada wartawan di Bandung, Jawa Barat, Kamis (23/1/2020).

Menurut Billy, selama ini Honda sudah sering melakukan diskusi dengan Gaikindo terkait kendaraan listrik. Hal tersebut dilakukan sebagai langkah mencari kejelasan dan keikutsertaan dalam perkembangan kendaraan listrik di Indonesia.

Baca juga: Investasi Rp 5,1 Triliun Honda Dimulai Tahun Ini

Charging station milik BPPT untuk kendaraan listirik.stanly Charging station milik BPPT untuk kendaraan listirik.

Namun saat ditanya soal produk elektrifikasi apa yang sebenarnya cocok untuk di terapkan di Indonesia, Billy menegaskan sebagai langkah awal paling tepat adalah memasarkan mobil hibrida.

Pandang itu didasari oleh dua faktor utama. Pertama sebagai jembatan dan edukasi sebelum akhirnya menuju ke listrik murni, dan yang kedua untuk mengimbangi industri mesin konvensional yang sudah berjalan saat ini.

"Kalau langsung baterai, industri internal combustion engine (ICE) hilang, bagaimana dengan pabrik-pabriknya, apa semua langsung close? Jadi harus diimbangi dulu untuk transisi konsumen, ini elektrik, ini bensin, jadi ada proses edukasinya," ucap Billy.

Baca juga: Honda Tegaskan Jazz 2020 Tak Cocok buat Indonesia

Honda Jazz Hybrid Facelift di Malaysiapaultan.org Honda Jazz Hybrid Facelift di Malaysia

"Tujuan semuanya lebih untuk mereduksi CO2, kalau dari kami paling bagus hybrid. Mengenai baterai juga kita harus studi, kalau banjir bagaimana, banyak pertimbangannya, belum harus lokal dengan harga bersaing, maka itu harus dipelajari dulu juknisnya," kata Billy.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.