Solusi Kemacetan, BPTJ Siapkan Transportasi Massal di Jalur Puncak

Kompas.com - 02/12/2019, 16:20 WIB
Ribuan pengendara terjebak hingga empat jam di jalur Puncak-Cianjur, Jawa Barat, hingga Sabtu (8/6) sore petugas belum dapat melakukan sistem satu arah karena kendaraan dari kedua arah masih sama-sama padat. ANTARA/Ahmad FikriRibuan pengendara terjebak hingga empat jam di jalur Puncak-Cianjur, Jawa Barat, hingga Sabtu (8/6) sore petugas belum dapat melakukan sistem satu arah karena kendaraan dari kedua arah masih sama-sama padat.
|

JAKARTA, KOMPAS.com – Kemacetan di kawasan Puncak Bogor hampir terjadi di setiap akhir pekan, atau saat liburan panjang.

Masyarakat yang hendak berlibur atau rekreasi di Puncak harus rela melewati antrean kendaraan belasan hingga puluhan kilometer sebelum tiba di destinasi wisata tujuan.

Untuk mengurangi tingkat kepadatan di jalur Puncak, Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) berencana mengembangkan sistem transportasi massal di kawasan tersebut.

Misalnya dari terminal Baranangsiang di Bogor menuju Puncak dan sebaliknya, hingga bisa mengatasi masalah kemacetan.

Bambang Prihartono, Kepala BPTJ, berujar jika kawasan puncak sejak dulu belum pernah memiliki alat transportasi massal yang memadai. Hal ini yang membuat masyarakat hanya memilih kendaraan pribadi untuk menuju ke sana.

Baca juga: Masih Ujicoba, Skema 2-1 di Jalur Puncak Berjalan Tanpa Sanksi

Ilustrasi cabble car di kawasan Highland Malaysiagetyourguide.com Ilustrasi cabble car di kawasan Highland Malaysia

“Kawasan Puncak itu sejak 30 tahun lalu ya seperti itu saja. Padahal Puncak itu kan kawasan wisata, kami harapkan nanti bisa jadi kawasan wisata nasional. Kami akan segera bangun angkutan massal di kawasan Puncak,” ucap Bambang di Jakarta, Senin (2/12/2019).

Bambang juga mengatakan, pihaknya masih mengkaji transportasi massal jenis apa yang cocok diterapkan di kawasan puncak.

Transportasi massal rencananya harus yang bisa terkoneksi dengan terminal besar atau stasiun LRT yang tengah digarap di sepanjang jalan tol Jagorawi.

“Konsepnya bisa cabble cars atau bisa juga LRT. Pasti banyak perusahaan swasta yang tertarik karena ini kan daerah wisata,” ujar Bambang.

Baca juga: Aturan Ganjil Genap Tidak Bisa Diterapkan di Jalur Puncak

LRT Jakarta beroperasi secara komersial mulai Minggu (1/12/2019). Foto diambil di Stasiun Velodrome.KOMPAS.COM/NURSITA SARI LRT Jakarta beroperasi secara komersial mulai Minggu (1/12/2019). Foto diambil di Stasiun Velodrome.

Bambang menambahkan, skema pendanaan proyek ini rencananya akan menggandeng pihak swasta untuk berinvestasi.

Meski begitu, dirinya belum dapat memastikan kapan rencana ini bisa terealisasi.

“Untuk mengatasi kemacetan puncak secara umum kami punya tiga kebijakan. Kebijakan jangka pendek, kami lakukan dengan rekayasa lalu lintas. Jangka menengah dengan mencari jalur alternatif dan jangka panjang dengan angkutan massal,” katanya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X