Pelanggaran Lalu Lintas Meningkat, Bukti Pentingnya Edukasi Sejak Dini

Kompas.com - 11/11/2019, 18:31 WIB
Operasi Patuh Jaya 2019 di Pasar Minggu, Jakarta Selatan Operasi Patuh Jaya 2019 di Pasar Minggu, Jakarta Selatan
Penulis Stanly Ravel
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Selama dua pekan digelar, Operasi Zebra Jaya 2019 sukses menjaring 117.895 kendaraan, baik dari roda dua maupun mobil pribadi. Jumlah tersebut pun diklaim mengalami kenaikan tujuh persen dibandingkan operasi serupa pada 2018 lalu.

Seperti biasa, motor masih menjadi kontribusi tertinggi pelanggaran lalu lintas dengan jumlah 85.359 unit. Sedangkan untuk mobil menempati posisi kedua, dengan catatan 25.159 pelanggar.

Menyikapi peningkatan ini, Kasubdit Gakkum Polda Metro Jaya Kompol Fahri Siregar, menjelaskan tingginya pelanggaran lalu lintas setiap tahun siring dengan meningkatnya kendaraan baru.

Namun sayang, hal tersebut tidak diselaraskan dengan adanya edukasi-edukasi soal tertib dan keselamatan berlalu lintas.

Baca juga: Lebih Banyak Kendaraan Terjaring Razia Operasi Zebra Jaya 2019

"Memang ada beberapa fator kenapa orang itu patuh atau tidak patuh terhadap hukum. Paling utama itu soal doktrin, bila semakin banyak orang menerima himbauan dan edukasi soal keselamatan, otomatis pelanggaran makin berkurang, sebaliknya pun demikian," kata Fahri saat dihubungi Kompas.com, Senin (11/11/2019).

Lebih lanjut Fahri menjelaskan bila proses edukasi dan penyuluhan sebenarnya bukan hanya menjadi tugas dari penegak hukum, tapi semua pihak. Untuk doktrin sendiri, sangat baik dimulai dari ruang lingkup terkecil, yakni keluarga.

Operasi Patuh Jaya 2019 di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis (29/8/2019).Foto: Stanley Ravel Operasi Patuh Jaya 2019 di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis (29/8/2019).

Peran penting keluarga sangat dibutuhkan untuk menekan pelanggaran lalu lintas, karena akan memberikan dampak signifikan pada penekanan angka kecelakaan di jalan.

Untuk prosesnya edukasi dalam lingkup keluarga, menurut Fahri tak perlu mengumbar materi yang terlalu berat, tapi bisa dilakukan dari hal-hal sederhana.

Contoh, ketika orang tua akan berangkat kerja atau pergi menggunakan motor selalu menggenakan helm, dan mengajak anggota keluarga lainnya juga demikian.

Begitu pula saat mengendarai mobil, pastikan sabuk penggaman selalu digunakan pada setiap baris penumpang.

Baca juga: Pengendara Sepeda Motor Harus Jadi Duta Keselamatan Berlalu Lintas

"Dengan kebiasaan seperti itu, bila anak dari kecil sudah menerima, sering melihat, maka otomatis akan terbawa saat mereka besar dan mulai berkendara. Tinggal diarah lagi soal kenapa penting mematuhi lalu lintas," ucap Fahri.

Operasi Zebra yang dilakukan di wilayah Jakarta Barat, Rabu (23/10/2019)Kompas.com/ BONFILIO MAHENDRA WAHANAPUTRA LADJAR Operasi Zebra yang dilakukan di wilayah Jakarta Barat, Rabu (23/10/2019)

Penanaman budaya keselamatan berlalu lintas sejak dini, dianggap Fahri menjadi metode yang lebih ampuh untuk membiasakan dan mendidik para generasi muda dalam mematuhi aturan lalu lintas. Karena sumber utama kecelakaan, umumnya diawali dari pelanggaran lalu lintas.

"Penting untuk diketahui, tolok ukur dari edukasi itu adalah tingkat kesadaran dari masyarakat. Jadi harusnya ini menjadi peran semua pihak, diawali dari keluarga, sampai lapisan lainnya," kata Fahri.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X