Populasi Ojek "Online" Jangan Sampai Ganggu Ketertiban Lalu Lintas

Kompas.com - 11/11/2019, 18:14 WIB
Ratusan driver yang tergabung dalam Komunitas Driver Ojol Aceh (DOA) melakukan aksi demonstrasi ke Kantor DPRA dan Kantor Gubernur Aceh, Selasa (3/9/2019). Aksi tersebut digelar dalam rangka memprotes kebijakan pemotongan bonus driver ojek online 50 persen dari sebelumnya oleh PT Gojek Indonesia, serta meminta Pemerintah Aceh dan DPRA untuk ikut memperjuangkan bonus tetap Rp 80 ribu per hari seperti sebelumnya. KOMPAS.com/RAJA UMARRatusan driver yang tergabung dalam Komunitas Driver Ojol Aceh (DOA) melakukan aksi demonstrasi ke Kantor DPRA dan Kantor Gubernur Aceh, Selasa (3/9/2019). Aksi tersebut digelar dalam rangka memprotes kebijakan pemotongan bonus driver ojek online 50 persen dari sebelumnya oleh PT Gojek Indonesia, serta meminta Pemerintah Aceh dan DPRA untuk ikut memperjuangkan bonus tetap Rp 80 ribu per hari seperti sebelumnya.
Penulis Stanly Ravel
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Seiring berjalannya waktu, populasi jumlah ojek online ( ojol) pun makin menjamur. Contohnya seperti di Jabodetabek, hampir setiap sudut mudah ditemui ojek daring yang memiliki ciri khas jaket berwarna hijau tersebut.

Meski sudah menjadi sebuah kebutuhan, sayang pertumbuhan ojol tidak disikapi para pemangku kebijakan sedari awal, sehingga kini menimbulkan fenomena sosial yang sifatnya mengganggu ketertiban umum.

Contoh paling gampang seperti area umum yang dijadikan tempat mangkal para ojol. Mulai dari halte, kolong jembatan, bahu-bahu jalan, sampai sebagian trotoar pun kini berubah fungsi menjadi lapak tongkrongan.

Baca juga: Angkot, dan Ojol yang Ngetem di Jalur Sepeda Kena Denda Rp 500.000

Menyikapi hal ini, pemerhati masalah transportasi yang dulu juga pernah menjabat sebagai Kasubdit Gakkum Polda Metro Jaya Budiyanto menjelaskan bahwa fenomena tersebut menggambarkan dua masalah besar.

Kondisi trotoar di depan Stasiun Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Ojol (ojek online) mengetem di lokasi tersebut, Selasa (6/8/2019).Walda /KOMPAS.com. Kondisi trotoar di depan Stasiun Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Ojol (ojek online) mengetem di lokasi tersebut, Selasa (6/8/2019).

"Pertama, sudah jelas menggambarkan rendahnya kedisiplinan para pengendara, lalu yang berikutnya menjadi cerminan ketidakberdayaan petugas dalam menertibkan masalah ojol ini," ucap Budiyanto dalam keterangan resminya, Senin (11/11/2019).

Menurut Budiyanto, maraknya ojol menunjukkan sebuah perkembangan tren yang tidak terkendali. Antara supply dan demand yang tidak seimbang karena jumlah ojol lebih banyak dibandingkan dari pengguna jasanya.

Kemudahan menjadi ojol pun dinilai sebagai salah satu penyebab utamanya. Sebab, dengan hanya bermodalkan SIM, memiliki sepeda motor, dan ponsel pintar, masyarakat sudah bisa mencari nafkah.

Baca juga: Banyak yang Melanggar, Ojek Online Kena Operasi Patuh Jaya 2019

Akibat dari masalah tersebut, maka timbul fenomena sosial, sepeti munculnya area-area mangkal ojol di sembarang tempat yang sekarang sudah menjadi sebuah pemandangan umum karena tidak adanya tindakan dari pihak yang berwenang.

Bahkan dampaknya pun sampai membuat kondisi semrawut dan mengganggu kinerja lalu lintas.

Penumpukan ojek online yang menjemput ataupun menurunkan penumpang tampak di bawah jembatan penyebrangan orang (JPO) di Stasiun Palmerah. Foto diambil Rabu (12/12/2018). KOMPAS.COM/ RINDI NURIS VELAROSDELA Penumpukan ojek online yang menjemput ataupun menurunkan penumpang tampak di bawah jembatan penyebrangan orang (JPO) di Stasiun Palmerah. Foto diambil Rabu (12/12/2018).

"Karena banyaknya ojol, dan akibat penjagaan dan pengawasan yang terbatas serta tidak konsisten, maka menciptakan ruang untuk melakukan pelanggaran. Aparat terkesan tidak berdaya. Ini perlu ada langkah-langkah stategis dengan komponen yang berkompeten untuk membuat solusi dari hulu hingga hilir," kata Budiyanto.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X