Komunitas Motor Pengawal Ambulans, Berangkat dari Keprihatinan

Kompas.com - 08/11/2019, 08:02 WIB
Komunitas motor pengawal ambulans, Indonesia Escorting Ambulance (IEA) Instagram @IEA_DepokKomunitas motor pengawal ambulans, Indonesia Escorting Ambulance (IEA)

JAKARTA, KOMPAS.com - Kemacetan di Jakarta yang semakin parah kerap mengganggu jalannya tim medis yang membawa ambulans saat bertugas. Melihat hal tersebut, muncul komunitas yang menamakan dirinya dengan Indonesia Escorting Ambulance (IEA).

Tri Haryono, dari IEA Depok, mengatakan, komunitas ini terbentuk di awal 2017 oleh saudara Nova Widyatmoko. Awalnya ada di Bekasi, tapi sudah menyebar hingga hampir di setiap wilayah.

Baca juga: Tanggapan Polisi Soal Komunitas Motor Pengawal Ambulans

"Awalnya, berdiri karena kemacetan di Indonesia. Kami prihatin dengan kendaraan yang seharusnya diprioritaskan, tapi masih banyak masyarakat yang kurang sadar akan kendaraan prioritas. Satu detik saja sangat bermanfaat untuk mereka," ujar Tri, kepada Kompas.com, belum lama ini.

Komunitas motor pengawal ambulans, Indonesia Escorting Ambulance (IEA)Instagram @IEA_Depok Komunitas motor pengawal ambulans, Indonesia Escorting Ambulance (IEA)

Tri menambahkan, IEA tidak hanya mengawal ambulans saja. Komunitas ini juga bergerak di bidang pencarian dan penyelamatan, serta kegiatan sosial lainnya.

"Banyak organisasi yang sama seperti kami. Bedanya, kami mempunyai SOP pemanduan, ADRT, dan pelatihan khusus untuk setiap anggota untuk menjadi seorang first responder. Agar ketika di jalan, kita bisa menolong orang yang kecelakaan ataupun pasien yang sudah tak sadarkan diri," kata Tri.

Baca juga: Kasus Ambulans, Ingat Ini Urutan Kendaraan yang Dapat Hak Utama

Dalam melakukan tugasnya, IEA juga bekerja sama dengan beberapa pihak. Tri mengatakan pihaknya bekerja sama dengan Pro Emergency dan BSMI (Bulan Sabit Merah Indonesia).

Komunitas motor pengawal ambulans, Indonesia Escorting Ambulance (IEA)Instagram @IEA_Depok Komunitas motor pengawal ambulans, Indonesia Escorting Ambulance (IEA)

"Kami hanya membantu tugas kepolisian. Sebab, tidak selamanya pengawalan ada polisi. Misalnya, saat bertemu di jalan, apakah polisi langsung memandu? Tentu tidak, karena beliau mempunyai tugas lain. Kami hanya bergerak atas dasar dari hati ke hati. Resiko pun sudah kami tanggung sendiri," ujar Tri.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X