Menjelajah Banyuwangi-Bali Naik Hybrid, Terasa Tidak "Istimewa"

Kompas.com - 14/10/2019, 08:02 WIB
Toyota Prius Prime menjadi andalan di segmen Plug-in Hybrid, segera dijual akhir 2019 ini. TOYOTAToyota Prius Prime menjadi andalan di segmen Plug-in Hybrid, segera dijual akhir 2019 ini.

“Target kita akhir tahun ini bisa segera dipasarkan di Indonesia, namun belum pasti kapan. Soal harga, juga belum diputuskan, namun kisarannya di bawah Rp 1 miliar,” kata Anton lagi.

Toyota Prius Prime PHEV dibekali mesin bensin 1.8 liter dipadu dengan motor elektrik dan baterai lithium-ion, berbeda dengan model hybrid saja yang berbekal baterai nickel metal hydrite. Baterai ini lebih berkualitas, baik dari segi penyimpanan, kekuatan, tetapi harganya jauh lebih mahal.

Selepas bersandar di Pelabuhan Gilimanuk, rombongan melanjutkan perjalanan 18 km menuju The Menjangan, resor butik, di dalam kawasan Taman Nasional Bali Barat, kemudian melanjutkan ke The Chocolate di Baturiti, Tababan. Jalur yang ditempuh kali ini, tergolong cukup menantang, menjadi ciri khas kondisi asli Indonesia. Jalan panjang, menikung tajam, tanjakan serta turunan curam yang memang menjadi khas Singaraja, Bali.

Baca juga: Harga Toyota Prius PHEV Bisa Lebih Murah Dibanding Outlander PHEV

Sekali lagi, kekhawatiran masyarakat pada mobil hybrid, dalam hal ini PHEV pada powernya, baiknya dilupakan. Pasalnya, Prius Prime PHEV ini mampu berkelok-kelok di tikungan dan tanjakan curam layaknya mobil normal. Bahkan, ketika baterai masih terisi penuh, tarikan motor elektrik melahap tanjakan curam jadi lebih mantap, torsi terasa penuh dengan cepat.

Ketika isi baterai terkuras, sistem Hybrid Synergy Drive milik Toyota dengan halus, tak terasa, memindah alihkan tugas penyuplai tenaga dari mesin konvensional. Ketika mesin konvensional kembali jadi tumpuan utama, karakternya serupa layaknya sedan kecil kelas 1.8 liter. Tidak ada yang istimewa, sama saja!

Satu hal lagi, banyaknya turunan yang disuguhkan di jalur sepanjang 118 km ini, Prius Prime PHEV juga dengan mudah mengisi kembali baterai menangkap energi regeneratif ketika menginjak rem. Laju mobil juga tetap terukur dengan memindahkan tuas perseneling ke posisi “B”, sebagai engine brake, sehingga semakin terasa seperti mobil “normal”.

Baca juga: Corolla Altis Jadi Sedan Hybrid Murah Toyota

Tuas transmisi Prius PHEV ada yang menarik, posisi B yang berfungsi untuk engine brake ketika menghadapi turunan, sekaligus mempercepat pengisian baterai lithium-ion pada mobil.TOYOTA Tuas transmisi Prius PHEV ada yang menarik, posisi B yang berfungsi untuk engine brake ketika menghadapi turunan, sekaligus mempercepat pengisian baterai lithium-ion pada mobil.

Dalam posisi ini, ditambah sesekali injak pedal rem, pengisian daya ke baterai juga lebih cepat, sehingga model full EV bisa dinikmati, ketika jalan sudah landai.

Setelah dari Tababan, rombongan melanjutkan perjalanan ke Kuta, mengakhiri test drive pada kesempatan kali ini.

Kesimpulan yang Kompas.com peroleh, tidak ada yang perlu dikhawatirkan oleh masyarakat yang ingin beralih dari mobil konvensional ke elektrifikasi, dalam hal ini hybrid atau PHEV. Semua sensasi berkendara dan power dari mobil hybrid maupun PHEV terasa normal, tidak istimewa, layaknya mobil pada umumnya.

Justru, dengan menggunakan teknologi hybrid atau PHEV, perjalanan yang ditempuh mencapai 380 km ini, tidak ada satu pun mobil yang mengisi bensin dari posisi penuh. Artinya, jauh lebih irit dan lebih ramah lingkungan!

Baca juga: Produksi Hybrid Toyota Pertama di Indonesia antara MPV dan SUV

Lima model andalan Toyota berteknologi Hybrid dan PHEV ada yang sudah dijual, juga ada yang masih penjajakan pasar.TOYOTA Lima model andalan Toyota berteknologi Hybrid dan PHEV ada yang sudah dijual, juga ada yang masih penjajakan pasar.

Pun, jika pengisian bensin perlu dilakukan, bisa mampir di SPBU terdekat, layaknya mobil normal, tanpa harus khawatir tidak ada lokasi cas baterai yang tersedia di sepanjang perjalanan. Ini yang Kompas.com maksud dengan terasa tidak istimewa, karena kekhawatiran masyarakat atas adaptasi mobil konvensional ke hybrid atau PHEV bisa dengan mulus dilakukan.

Kelemahan mobil hybrid dan PHEV itu cuma satu, harganya yang mahal. Mudah-mudahan jika aturan turunan Pepres No. 55 Tahun 2019, tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai, ada insentif yang bisa dinikmati masyarakat nantinya. Bisa bikin mobil hybrid atau PHEV jadi lebih murah.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X