Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 09/10/2019, 17:52 WIB
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Becak dilarang di sebagian wilayah karena dianggap kurang manusiawi. Tapi di satu sisi, jika dikemas dengan baik, bukan tak mungkin becak malah bisa jadi ikon wisata yang menarik.

Dilandasi pemikiran becak harus tetap eksis, Wiwien Vegas dari Mobilijo, workshop custom kendaraan listrik dari Yogyakarta, memodifikasi becak dengan tambahan motor listrik ramah lingkungan.

Baca juga: Sukses di 2019, Kustomfest 2020 Akan Bawa Konsep Baru

"Awalnya saya berinovasi becak listrik ini pertama ingin meringankan beban penarik becak, harapan saya itu memanusiakan manusia tapi juga menjaga lingkungan," kata Wiwien kepada Kompas.com yang ditemui di pameran Hari Listrik Nasional ke-74 di Jakarta, Rabu (9/10/2019).

Becak Listrik Karya Mobilijo JogyaKOMPAS.com/Gilang Becak Listrik Karya Mobilijo Jogya

Oleh Wiwien, becak biasa ditambahkan dinamo motor listrik sebagai penggerak. Namun dia tetap mempertahankan ''gowesan'' sepeda sehingga tidak menghilangkan kesan becak tradisional.

Menariknya, Wiwien menggunakan dinamo 1.000 Watt 48 Volt buat penggerak. Dinamo ini menggunakan gardan, sehingga becak listrik buatannya berpengerak dua roda depan, bukan gerak belakang ala bentor (Becak Motor).

"Kita coba inovasi dengan pakai gardan sehingga jadi gerak depan. Kalau biasanya kan gerak roda belakang," katanya.

Dengan gerak dua roda, becak listrik ini bisa menempuh kecepatan maksimal 25 kpj. Catu daya berasal dari aki kering 48 Volt 20 Ah yang didapat dari empat buah aki kering 12 volt dan digabung dengan sistem seri.

Becak listrik karya Mobilijo Yogyakarta Becak listrik karya Mobilijo Yogyakarta

 Baca juga: Jonan Minta PLN Ikut Sukseskan Program Kendaraan Listrik

"Sekali isi daya bisa menempuh jarak 35 km. Ngecasnya sendiri paling lama 3 jam. Daya angkut becak kuat menanggung beban sampai 250 kg," kata Wiwien.

Ke depan, Wiwien mengatakan, inovasi becak listrik buatannya diarahkan untuk kegiatan pariwisata. Tentu saja tidak di semua daerah, tapi di daerah yang masih memperbolehkan becak atau di kampung wisata.

"Karena becak ini bisa dikatakan ikon wisata seperti becak Yogyakarta, Solo dan Pekalongan beda-beda. Jadi sebetulnya ini alat angkut tradisional yang bisa jadi ikon wisata," katanya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.