Ini Penyebab Kecelakaan di Tol Cipularang Versi Kemenhub

Kompas.com - 04/09/2019, 15:07 WIB
Kecelakaan beruntun di Tol Cikampek, Jumat (31/3/2017). Corporate Communication PT Jasa Marga (Persero) Tbk.Kecelakaan beruntun di Tol Cikampek, Jumat (31/3/2017).
|

JAKARTA, KOMPAS.com – Usai kecelakaan beruntun yang melibatkan puluhan kendaraan di Tol Cipularang pada Senin (2/9/2019), pihak-pihak yang berwenang telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) guna mengetahui penyebab kejadian tersebut.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub Budi Setiadi, yang sudah mendapat info perihal hasil olah TKP mengungkapkan, beberapa sebab terjadinya tabrakan beruntun.

Saat ditemui di sela-sela gelaran IEMS 2019, ia berujar faktor utama penyebab kecelakaan adalah daya angkut yang melebihi kapasitas.

“Jadi karena daya muatnya, overload. Dua-duanya masih dari satu perusahaan,” katanya di Balai Kartini, Jakarta Selatan (4/9/2019).

Baca juga: Kemenhub Targetkan 2020 Bersih dari Truk ODOL

Petugas mengevakuasi sejumlah kendaraan yang terlibat pada kecelakaan beruntun di Tol Cipularang KM 92 Purwakarta, Jawa Barat, Senin (2/9/2019). Kecelakaan tersebut melibatkan sekitar 20 kendaraan yang mengakibatkan korban 25 orang luka ringan, empat orang luka berat dan delapan orang meninggal dunia.ANTARA FOTO/MUHAMAD IBNU CHAZAR Petugas mengevakuasi sejumlah kendaraan yang terlibat pada kecelakaan beruntun di Tol Cipularang KM 92 Purwakarta, Jawa Barat, Senin (2/9/2019). Kecelakaan tersebut melibatkan sekitar 20 kendaraan yang mengakibatkan korban 25 orang luka ringan, empat orang luka berat dan delapan orang meninggal dunia.

Budi juga mengaku telah berdiskusi dengan teknisi dari Hino, produsen truk yang terlibat dalam kecelakaan. Bahwa kedua truk yang kelebihan beban itu diketahui mengalami rem blong karena kinerja sistem pengereman yang menurun karena terus menerus digunakan.

“Kalau truk Hino itu dengan beban sebanyak itu memang dapat membuat beban kerja rem jadi lebih berat, dia jadi panas, suatu saat rem itu akan loss jika sudah mencapai titik maksimalnya,” jelasnya.

Selain itu, juga ada analisa lain bahwa truk telat melakukan pengereman. Budi menuturkan bahwa truk harusnya punya jarak pengereman yang lebih jauh daripada mobil biasa, apalagi di kondisi jalan menurun.

Baca juga: Tak Banyak Truk yang Perawatan Berkala di Bengkel Resmi

Truk yang sebabkan tabrakan beruntun di Cipularang Truk yang sebabkan tabrakan beruntun di Cipularang

“Tapi secara umum, dua-duanya bermasalah pada sistem pengereman. Karena bermasalah, akhirnya satu terguling, satu lagi menabrak dari belakang,” tambahnya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X