Pembangunan Fast Charging Station yang Ideal

Kompas.com - 28/08/2019, 19:16 WIB
Pengisian baterai tanpa kabel dari Toyota. Toyota/WorldcarfansPengisian baterai tanpa kabel dari Toyota.

JAKARTA, KOMPAS.com - Kendaraan listrik mengandalkan baterai sebagai sumber tenaga. Baterai tersebut perlu diisi ulang jika habis dayanya. Untuk efisiensi, diperlukan fast charging station atau stasiun cas cepat di Indonesia.

Kapasitas daya pada baterai mobil listrik cukup besar. Untuk itu, pengisian dayanya juga membutuhkan waktu hingga terisi penuh. Salah satu solusi untuk melakukan penghematan waktu adalah dengan menghadirkan fast charging station.

Baca juga: Pelaku Industri Minta Insentif yang Masif untuk Kendaraan Listrik

Fransiscus Soerjopranoto, Executive General Manager PT Toyota Astra Motor (TAM), mengatakan, Toyota siap bekerja sama dengan pemerintah untuk membangun infrastruktur kendaraan listrik, salah satunya dengan membantu pengadaan fast charging station.

Petugas PLN Distribusi Jawa Barat mengoperasikan penggunaan alat Stasiun Penyedia Listrik Umum (SPLU) saat peresmian di Bandung, Jawa Barat, Senin (11/9/2017). PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat mengoperasikan 15 SPLU di Kota Bandung serta 23 SPLU yang tersebar di Jawa Barat guna memudahkan serta memenuhi kebutuhan pengisian energi kendaraan listrik di tempat umum bagi pelaku UMKM, Pedagang Kaki Lima (PKL) dan masyarakat. ANTARA FOTO/Fahrul Jayadiputra/aww/17.ANTARA FOTO/Fahrul Jayadiputra Petugas PLN Distribusi Jawa Barat mengoperasikan penggunaan alat Stasiun Penyedia Listrik Umum (SPLU) saat peresmian di Bandung, Jawa Barat, Senin (11/9/2017). PT PLN (Persero) Distribusi Jawa Barat mengoperasikan 15 SPLU di Kota Bandung serta 23 SPLU yang tersebar di Jawa Barat guna memudahkan serta memenuhi kebutuhan pengisian energi kendaraan listrik di tempat umum bagi pelaku UMKM, Pedagang Kaki Lima (PKL) dan masyarakat. ANTARA FOTO/Fahrul Jayadiputra/aww/17.

"Kebutuhan fast charging station itu kalau kita hitung kira-kira, 120 km perlu dibangun satu," ujar Soerjo, dalam acara focus group discussion "Kajian Implementasi Kendaraan Elektrifikasi (EV) Dalam Mendukung Percepatan Kendaraan Bermotor Listrik sebagai Industri Berkelanjutan Pascaterbitnya Perpres No 55/2019", di Menara Kadin, Jakarta, Selasa (27/8/2019).

Pria yang akrab disapa Soerjo tersebut menambahkan, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sudah melakukan penghitungan dan jumlah investasi untuk membangun fast charging station bisa mencapai Rp 1 miliar.

Baca juga: Tanggapan Toyota Terkait Pemindahan Ibu Kota ke Kalimantan Timur

"Kalau kita hitung kira-kira 120 km satu fast charging station. Jadi, bisa dibayangkan berapa fast charging station yang harus dibangun oleh Indonesia," kata Soerjo.

Menurut Soerjo, kemampuan kendaraan listrik sekarang masih bervariasi. Kalau berasumsi dengan 160 km saja, harus disesuaikan lagi dengan kondisi di indonesia. Sebab, kondisi di Indonesia sangat spesifik.

"Kita perlu lihat kalau macet, kan otomatis baterainya akan cepat habis. Digunakan kecepatan tinggi pun, kalau Tesla bilang mereka bisa sampai 200 kpj seperti Lamborghini, baterainya kan juga akan cepat turun. Makanya, kita hitung standarnya, di negara2 maju pun juga standarnya 120 km," ujar Soerjo.

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X