Kompas.com - 08/08/2019, 13:16 WIB
Deretan mobil bekas yang dijual di diler Kara Mobil, Jalan Margonda, Depok, Selasa (13/2/2018). Kompas.com/Alsadad RudiDeretan mobil bekas yang dijual di diler Kara Mobil, Jalan Margonda, Depok, Selasa (13/2/2018).
Penulis Stanly Ravel
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Meski menimbulkan pro kontra di kalangan masyarakat, namun dengan meluasnya area ganjil genap justru diklaim akan memberikan dampak positif bagi pengusaha mobil bekas (mobkas).

Sebagai pedangan mobil bekas menganggap kebijakan tersebut akan mendorong penjualan mobil bekas yang kini tengah lesu.

"Kabar baik, harusnya akan membuat penjualan mobkas makin positif seperti dulu saat pertama di terapkan. Justru harusnya dibuat seperti Asian Games, karena dampaknya benar-benar terasa," ujar Senior Manager Marketing WTC Mangga Dua Herjanto Kosasih, saat dihubungi Kompas.com, Selasa (6/8/209) lalu.

Menurut Herjanto, meski kebijakan pembatasan mobil tidak diterapkan selama 15 jam, tapi dengan area pembatasan yang makin luas juga bisa memberikan dampak pada penjualan mobkas.

Baca juga: Perbedaan Perluasan Ganjil Genap Jakarta dari yang Sekarang

Diprediksi sebagian orang yang sudah memiliki mobil akan mencari satu mobkas untuk membedakan pelat nomornya. Dengan demikian, aktivitasnya tidak terganggu karena masih bisa menggunakan mobil pribadi dengan menyesuaikan tanggal saja.

"Kalau sudah ada yang punya pelat ganjil mereka cari genap, dan sebaliknya. Tapi biasanya memang tidak mobil yang terlalu mahal, minimal mobil kecil seperti city car atau LCGC," ujar Herjanto.

Livina masih jadi incaran di pasar mobil bekas meski model terbarunya sudah hadirKompas.com/Setyo Adi Livina masih jadi incaran di pasar mobil bekas meski model terbarunya sudah hadir

Secara terpisah, hal senada juga diutarakan Ridwan pemilik showroom mobkas di Cipinang, Jakarta Timur. Menurut dia, pada 2018 lalu saat diterapkan ganjil genap untuk Asian Games, pergerakan penjualan mobil bekas lumayan terdongkrak, banyak konsumennya yang rela menambah mobil dengan alasan untuk mengakali ganjil genap.

"Saat 2018 lalu memang lumayan, tapi memang biasanya tidak cari mobil yang mewah atau besar, karena statusnya hanya agar bisa tetap beraktivitas saja. Kebanyakan LCGC, Agya dan Ayla matik biasanya yang dicari, karena murah dan bensinnya juga tidak boros," ujar Ridwan.

Ketika ditanyakan soal pasaran dari mobil LCGC, Ridwan menyebutkan tergantung dari kondisi dan tahun. Untuk Agya lansiran 2017 bertransmisi matik misalnya, harga jual yang ditawarkan saat ini berkisar Rp 93 juta sampai Rp 95 jutaan, sementara yang tahun 2018 masih mendekati Rp 100 juta.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.