Jawaban Polisi soal Salesman Mobil Tawarkan Pelat Nomor Ganjil Genap

Kompas.com - 08/08/2019, 10:45 WIB
DSFK meresmikan dealer Surbaya untuk mulai menjamah pasar Jawa Timur. KOMPAS.com/Aris FHDSFK meresmikan dealer Surbaya untuk mulai menjamah pasar Jawa Timur.

JAKARTA, KOMPAS.com - Pembatasan kendaraan dengan skema pelat nomor ganjil genap resmi diperluas. Sosialisasi sudah dimulai sejak 7 Agustus dan berakhir pada 8 September 2019. Alhasil per 9 September 2019, pengemudi mobil yang melanggar aturan akan langsung dikenakan sanksi sesuai undang-undang.

Perluasan ganjil genap itu atas instruksi Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Ketentuan ini tertulis dalam Instruksi Gubernur ( Ingub) DKI Jakarta Nomor 66 tahun 2019 tentang Pengendalian Kualitas Udara.

Keputusan itu jelas mengundang banyak reaksi dari masyarakat. Tanggapannya ada yang positif dan juga negatif. Bahkan, sejumlah orang terutama di kalangan menengah ke atas mulai mencari solusi, yakni dengan cara membeli mobil baru.

Misal, mobil yang sudah ada di rumah pelat nomornya genap, sehingga butuh satu unit lagi dengan nopol berakhiran angka ganjil.

Baca juga: Reaksi Produsen soal Anies Bebaskan Ganjil Genap Kendaraan Listrik

Perlu diketahui, saat membeli mobil baru, konsumen akan ditawarkan untuk memesan pelat nomor polisi, mau ganjil atau genap oleh para salesman. Tim Kompas.com mencoba bertanya kepada para wiraniaga dari beberapa diler merek mobil di Jakarta.

Salah satu wiraniaga dari Daihatsu yang berhasil dihubungi Tim Kompas.com mengatakan, calon pembeli bisa memilih, ingin pelat nomor ganjil atau genap.

"Itu bisa dibantu untuk mengurusnya. Tetapi ada penambahan biaya, untuk Bogor Rp 500.000 dan Jakarta Rp 600.000. Tetapi itu empat angka saja, kalau tiga angka jatuhnya sudah pilih nomor," ujarnya saat dihubungi Kompas.com, Selasa (6/8/2019).

Baca juga: Anies Bebaskan Ganjil Genap Kendaraan Listrik, Ini Kata Polisi

Begitu pula dengan salah satu tenaga penjual diler DFSK yang mengatakan, calon pembeli bisa meminta pelat nomor tertentu, ganjil atau genap. Tetapi dengan catatan, ada penambahan biaya.

Ilustrasi tanda nomor kendaraankomisikepolisianindonesia.com Ilustrasi tanda nomor kendaraan

"Biayanya sekitar Rp 700.000, tidak ada perbedaan pelat ganjil atau genap. Kira-kira harganya segitu," katanya.

Mendengar hal ini, Dir Regident Korlantas Polri Brigjen Pol Halim Pagarra mengatakan, hal itu merupakan kesalahan diler dan perlu dilakukan evaluasi. Bukan diler saja, tetapi Agen Pemegang Merek (APM).

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X