Mati Listrik Jadi Ganjalan Elektrifikasi di Indonesia?

Kompas.com - 06/08/2019, 07:32 WIB
Simulasi pengisian bahan bakar listrik mobil Hybrid BMW i8  saat acara penyerahan kunci di Grand Hyatt, Jakarta, Kamis (20/4/2017). Penyerahan unit pertama kali dilakukan oleh BMW dengan penyerahan kunci secara resmi oleh President Director BMW Group Indonesia Karin Lim kepada pemilik pertamanya. KOMPAS.com/ANDREAS LUKAS ALTOBELISimulasi pengisian bahan bakar listrik mobil Hybrid BMW i8 saat acara penyerahan kunci di Grand Hyatt, Jakarta, Kamis (20/4/2017). Penyerahan unit pertama kali dilakukan oleh BMW dengan penyerahan kunci secara resmi oleh President Director BMW Group Indonesia Karin Lim kepada pemilik pertamanya.
Penulis Stanly Ravel
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Matinya aliran listrik di sebagai wilayah Jabodetabek, Jawa Barat, dan Banten, Minggu (4/8/2019), membuat aktivitas warga terganggu. Kondisi ini menjadi sorotan tersendiri mengingat saat ini Indonesia sedang ramai membicarakan soal kendaraan berbasis elektrifikasi.

Seperti diketahui, kendaraan elektrifikasi memanfaatkan baterai sebagi sumber tenaga primer ataupun sekunder, sehingga butuh suplai aliran listrik. Dengan kondisi perusahaan penyuplai masih sering terjadi pemadaman, apakah mobil atau motor listrik nanti bisa diandalkan?

Menjawab pernyataan tersebut, Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILEMATE) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Harjanto, mengatakan, padamnya aliran listrik tidak akan sepenuhnya berpengaruh pada laju kendaraan elektrifikasi.

Baca juga: Ini Mobil Penyelamat saat Mati Listrik, Bisa Jadi Genset

" Mobil listrik pengertian awam di Indonesia ini kan hanya battery electric vehicle, tapi buat kami mobil listrik itu xEV. Mulai dari hybrid, plug-in hybrid, baterai electric vehicle, dan fuel cell," ucap Harjanto di Gedung Kemenperin, Jakarta, Senin (5/8/2019).

Lebih lanjut, Harjanto mengatakan bila berdasarkan usulan enam perguruan tinggi beberapa waktu lalu yang melakukan kajian, mobil ramah lingkungan yang direkomendasikan bukan battery eletric vehicle, melainkan hybrid alias hibrida.

Gogoro skuter listrik dan swap-station miliknya.Nikkei Gogoro skuter listrik dan swap-station miliknya.

Hal ini dilatarbelakangi masalah infrastruktur yang diakui Harjanto juga menjadi salah satu hal utama yang dipikirkan keenam perguran tinggi tersebut. Selain itu, dari tingkat kemampaun mobil listrik sendiri, karena bila baterainya makin besar maka otomatis membuat harga juga makin mahal.

"Karena itu, Pak Menteri bilang konsep untuk kendaraan listrik adalah lebih kepada point to point seperti bus, taksi, dan sepeda motor yang bisa swap baterai. Jadi bila misalnya charging time itu menjadi kendala sehingga kita bisa pakai baterai swap," ucap Harjanto.

Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X