Hyundai Jadi Bikin Pabrik Mobil di Indonesia

Kompas.com - 01/07/2019, 07:22 WIB
Hyundai Kona 2.000 cc Hyundai Kona 2.000 cc
Penulis Stanly Ravel
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Rencana pembangunan pabrik Hyundai Motor Company (HMC) di Indonesia semakin jelas. Pabrikan otomotif asal Korea Selatan ini diklaim segera merealisasikan investasinya dan memulai produksi kendaraan pada 2021 mendatang.

"Mereka akan mulai produksi pada 2021, dengan kapasitas 70.000 hingga 250.000 unit per tahun," ujar Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, dalam keterangan resminya usai bertemu dengan Executive Vice President HMC Park Hong Jae di Seoul, Korea Selatan, Minggu (30/6/2019).

Airlangga megatakan, Hyundai menargetkan 47 persen dari produksi di Indonesia akan fokus untuk kebutuhan domestik. Sementara 53 persen lain digunakan untuk ekspor ke beberapa negara tujuan bisnisnya.

Baca juga: Pabrik Hyundai di Indonesia Akan Produksi Mobil Listrik

Meski letak pabriknya belum bisa dikonfirmasi, namun diklaim nantinya pabrik tersebut akan menyerap tenaga kerja sebesar 3.500 orang. Menurut Airlangga, Hyundai menilai Indonesia akan menjadi basis produksi kendaraan guna memenuhi kebutuhan pasar domestik dan ekspor.

"Hyundai telah menegaskan komitmen mereka untuk segera memulai investasi di Indonesia. Prinsipnya pemerintah mendukung rencana investasi baru tersebut dengan fasilitas fiskal yang sudah tersedia," kata Airlangga.

Hyundai Elite i20 meluncur di Auto Expo di India.KOMPAS.com/FEBRI ARDANI Hyundai Elite i20 meluncur di Auto Expo di India.

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian Harjanto, mengatakan, sejak Januari 2018, Hyundai mengungkapkan rencana untuk membangun pabrik di kawasan Asean dan Indonesia sebagai pilihan lokasinya.

Baca juga: Bicara Mobil Listrik, Hyundai Sebut Kona dan Ioniq untuk Indonesia

Menurut Harjanto, dari total kapasitas produksi HMC di Tanah Air, sebagian akan digunakan untuk membuat kendaraan listrik untuk mengisi pasar ekspor ke Asia Tenggara dan Australia. Sisanya lagi untuk memenuhi kebutuhan domestik.

"Apalagi, Indonesia memiliki bahan baku bijih nikel yang bisa digunakan untuk produksi baterai lithium-ion sebagai komponen penting kendaraan listrik," kata Harjanto.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X