Kalah dengan MotoGP, Ini yang Bikin F1 Indonesia Patut Diperjuangkan

Kompas.com - 28/05/2019, 16:47 WIB
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Sirkuit Sepang, Malaysia, sudah tidak menggelar F1 karena dianggap kurang menguntungkan dari sisi penyelenggara. Kini Indonesia berniat menggelar F1 guna meningkatkan citra sebagai negara tujuan sport tourism.

M Wahab S, pengamat otomotif, komentator F1, dan pendiri Forum Komunikasi Klub dan Komunitas Otomotif Indonesia (FK3O) mengakui peminat MotoGP lebih besar ketimbang F1. Namun gelaran balap internasional tak sekadar soal angka turis.

Baca juga: Usai MotoGP, Indonesia Jajaki jadi Tuan Rumah Balap Formula 1

"Kalau dilihat fakta secara angka, tiga tahun lalu Sirkuit Sepang menjual sebanyak 45.000 tiket untuk F1 dan 166.000 tiket untuk MotoGP. Ini bukti MotoGP memang lebih banyak peminat dibanding F1, tetapi kita kembalikan apa tujuan menggelar balapan internasional di Indonesia. Mestinya angka yang sama sekitar 40.000-50.000 pengunjung akan hadir bila kita selenggarakan di Mandalika dan itu sudah cukup untuk mengangkat nama Indonesia di dunia international," kata Wahab kepada Kompas.com.

Sirkuit jalan raya di kota Baku, Azerbaijan. yang menjadi lokasi seri Formula 1.Instagram/@bakucitycircuit Sirkuit jalan raya di kota Baku, Azerbaijan. yang menjadi lokasi seri Formula 1.

Wahab mengatakan, secara teori Sirkuit Mandalika, Lombok, NTB, sangat cocok untuk mengelar balapan F1 dilihat dari eksotisme lokasi, dan akomodasi karena lombok mempunyai hotel bintang skala international.

"Saya memprediksi minimal 70.000 penggemar akan hadir dalam penyeleggaraan GP di Mandalika," katanya.

Baca juga: ITDC Siap Bertemu dengan Penyelengara F1

Erick Thohir, Ketua Komite Olimpiade Indonesia dan kandidat anggota International Olympic Committe (IOC) dalam rangka nominasi Indonesia sebagai tuan rumah Olimpiade 2032 mengatakan, sayang jika Sirkuit Mandalika hanya untuk balapan motor saja.

"Kita melihat kesempatan ini tidak hanya sebagai penyelenggara, tetapi bagaimana kita kaitkan dengan investasi ke depan, investasi pariwisata. Kita tahu Indonesia tidak hanya menjajaki halal tourism, tapi juga menjajaki menjadi negara yang tidak kalah bersaing dengan negara-negara tetangga seperti Thailand dan Malaysia dalam menjual sport tourism ataupun kebudayaan," kata Erick.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.