Kata Mitsubishi soal Xpander Kembali Naik Harga

Kompas.com - 16/03/2019, 08:42 WIB
Aksesori Mitsubishi Xpander dijual dalam tiga paketStanly/KompasOtomotif Aksesori Mitsubishi Xpander dijual dalam tiga paket

JAKARTA, KOMPAS.com - Selama tiga bulan pertama, PT Mitsubishi Motor Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) diketahui melakukan revisi harga sebanyak dua kali untuk Xpander. Saat Januari 2019, kenaikannya mencapai Rp 3 juta, kemudian kembali naik dengan kisaran Rp 2 juta pada akhir Februari lalu.

Kini harga Xpander pun cukup tinggi, untuk varian GLX M/T yang jadi model termurahnya dibanderol Rp 206.100.000 dari sebelumnya Rp 204.100.00. Sedangkan Xpander Ultimate A/T yang jadi varian tertingi harganya sudah menyentuh Rp 260.900.000, lebih mahal dari model MPV sejuta umat lainnya.

Ketika dikonfirmasi soal penyesuaian harga yang hingga dua kali dalam kurun waktu yang berdekatan, Head of Sales and Marketing Region 1 MMKSI Budi Dermawan Daulay, menjelaskan, kondisi tersebut dikarenakan beberapa faktor.

Baca juga: Perang Terbuka Persaingan Avanza-Xpander

"Salah satunya akibat Bea Balik Nama (BBN) yang ditetapkan pemerintah, ini sudah rutin setiap tahun dan beberapa wilayah memang sudah menetapkan tarif pajaknya. Adanya perubahan itu, otomatis membuat penyesuaian harga," kata Daulay kepada wartawan, Kamis (14/3/2019) lalu.

Mitsubishi masih pertahankan harga Xpander sampai akhir 2017.MMKSI Mitsubishi masih pertahankan harga Xpander sampai akhir 2017.
Sementara soal perubahan harga saat Januari lalu, Daulay mengatakan, lebih dikarenakan masalah biaya produksi dan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat. Untuk penyesuaian BBN pada umumnya akan terjadi antara Februari dan Maret, karena dalam kurun waktu tersebut, biasanya setiap daerah baru mengeluarkan tarif pajak baru.

Director of Sales & Marketing Division MMKSI Irwan Kuncoro sebelumnya mengatakan, bahwa naiknya harga tiap tahun akibat BBN sudah menjadi hal yang biasa dan tidak bisa dihindari. Bahkan Irwan mengklaim bila kondisi tersebut sudah menjadi hal yang dimaklumi konsumen.

"Intinya buat konsumen hal biasa kalau setiap tahun ada kenaikan. Kalau enggak nanti bagaimana, masa produk yang lama bisa lebih mahal atau sama dengan produksi baru," ucap Irwan.



Close Ads X