Peminat "Mobil Murah" Menurun, Ini Faktornya

Kompas.com - 15/03/2019, 08:02 WIB
Toyota Agya dipamerkan saat acara Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2017 di Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD City, Tangerang, Banten, Sabtu (19/8/2017). Menjelang penutupan GIIAS stan Toyota memberikan potongan harga hingga lima juta rupiah.KOMPAS.com / ANDREAS LUKAS ALTOBELI Toyota Agya dipamerkan saat acara Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2017 di Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD City, Tangerang, Banten, Sabtu (19/8/2017). Menjelang penutupan GIIAS stan Toyota memberikan potongan harga hingga lima juta rupiah.

JAKARTA, KOMPAS.com - Dalam wacana pajak emisi yang diutarakan pemerintah terungkap bahwa kendaraan segmen mobil murah alias Low Cost Green Car ( LCGC) atau Kendaraan Bermotor Hemat Enargi dan Hemat Bahan Bakar ( KBH2) akan terkena dampak. Peraturan tersebut akan mengenakan pajak sebesar 3 persen kepada segmen yang menyasar konsumen entry level tersebut.

Namun Toyota sebagai pihak yang menjual mobil di segmen ini mengungkapkan, kenaikan yang terjadi tidak masalah. Padahal dengan pengenaan pajak tersebut, harga produk di segmen ini dapat terdongkrak naik.

Executive General Manager PT Toyota Astra Motor (TAM) Fransiscus Soerjopranoto mengungkapkan, mengenai pajak sudah pasti tidak akan dibebankan pada konsumen secara keseluruhan. Di lain sisi, pasar LCGC saat ini memang sudah masuk ke fase penurunan.

“Tanpa ada aturan ( PPnBM) juga sudah turun. Ada aturan pasti turun lagi. Kenapa? Ada dua faktor yang mempengaruhi,” ucap Soerjo saat ditemui Rabu (13/3/2019) lalu.

Pertama, pasar low MPV semakin berkembang luar biasa. Soerjo mengungkapkan, konsumen yang tadinya melirik LCGC terimingi untuk melakukan peningkatan. 

Baca juga: Toyota Tak Masalah Bila LCGC Kena Tambahan Pajak

“Jangan lupa sekarang kemudahan pembiayaan. Orang tambah angsuran Rp 500.000 tiap bulan sudah dapat model yang lebih baru, kesannya tidak murahan. Ada sisi emosionalnya,” ucap Soerjo.

Alasan kedua, pasar sepeda motor berkembang pesat. Pasar roda dua secara tidak langsung membuat pilihan konsumen mobil LCGC bertambah terutama melihat kenaikan model-model motor premium yang ditawarkan produsen roda dua.

“Pilihannya beragam, pertama dari Kawasaki dulu kan, lalu Honda dan lainnya. Selain itu ada motor listrik. Antara motor dan mobil lebih mudah motor untuk berkembang. Jadi skemanya seperti itu,” ucap Soerjo.

Soerjo juga mengingatkan saat ini konsumen sudah memiliki kemudahan pilihan transportasi publik. Ada kereta, LRT dan MRT serta tidak memungkiri hadirnya transportasi online juga mengubah potensi konsumen di segmen LCGC.

“Dulu LCGC kan yang dicari harga terjangkaunya. Sekarang bukan lagi. Naik transportasi online, orang tidak perlu bayar parkir, perawatan. Lihat motor juga bisa lebih yang premium. Itu gambarannya. Kita amati di 2018 sudah selisih 10.000 sampai 15.000 dibanding 2017 penurunannya,” ucap Soerjo.

Soerjo mengungkapkan saat ini tawaran produk LCGC pun tidak ada yang menarik. Ini kesulitan yang dirasakan di segmen LCGC.



Close Ads X