Toyota Kejar Target Kandungan Lokal Murni 80 Persen

Kompas.com - 03/02/2019, 09:31 WIB
Investasi terus digelontor Toyota untuk membangun merek di Indonesia. KompasOtomotif-Donny AprilianandaInvestasi terus digelontor Toyota untuk membangun merek di Indonesia.
Penulis Stanly Ravel
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Selain menetapkan proyeksi kenaikan kinerja ekspor kendaraan complete build up (CBU) Toyota lebih dari lima persen di 2019, Toyota Motor Manufacturing Indonesia ( TMMIN) juga akan mengejar tingkat kandungan dalam negeri murni hingga 80 persen.

Direktur Administrasi, Korporasi, dan Hubungan Eksternal TMMIN Bob Azam, menjelaskan bila kondisi makro dunia merupakan tantangan tersendiri bagi kinerja ekspor otomotif dalam negeri.

"Peningkatan kandungan lokal murni (true localization) produk yang dimulai dari penggunaan sumber material dalam negeri, menjadi upaya fundamental untuk menjaga daya saing. Di saat yang sama, kegiatan tersebut dapat membantu menekan impor raw material sehingga dapat memberi sumbangan terhadap kestabilan neraca perdagangan terutama di sektor komponen otomotif yang saat ini masih jadi perhatian Pemerintah,” kata Bob Azam dalam siaran resminya, Jumat (31/1/2019).

Baca juga: Fortuner Dominasi Ekspor Toyota 2018

Neraca perdagangan di sektor hilir yang positif menyisakan pekerjaan rumah di dunia industri otomotif nasional. Kondisi ini karena neraca perdagangan di sektor hulu rantai suplai otomotif terutama di tingkat pemasok komponen lapis ke dua dan tiga masih negatif.

Diketahui hal tersebut karena masih banyaknya bahan mentah dan bahan baku industri manufaktur otomotif yang bersumber dari material impor, yang kemudian memengaruhi Tingkat Kandungan Dalam Negeri ( TKDN) produk otomotif Indonesia. Dengan banyaknya material impor, menjadikan TKDN murni atau “true localization” tidak setinggi yang harapkan.

Toyota Sienta diproduksi di Plant II milik Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) di Karawarang, Jawa Barat.Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Toyota Sienta diproduksi di Plant II milik Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) di Karawarang, Jawa Barat.

 

Menurut Bob, pendalaman TKDN masih merupakan isu yang karena menjadi beban tanggung jawab industri kecil yang berperan sebagai supplier di lapis kedua atau ketiga. Inefisiensi menjadi salah satu kendala mendasar operasi dan untuk memeranginya diperlukan upaya berkelanjutan membangun Sumber Daya Manusia (SDM), terutama pembekalan keterampilan dasar yang pada gilirannya akan berperan dalam meningkatkan efisiensi.

Baca juga: Tantangan Daihatsu, Buat Ayla 100 Persen Pakai Komponen Lokal

TMMIN sendiri telah berupaya memperbaiki TKDN murni atau true localization sejak tahun 2004. Pada tahun 2017, dua jenis bahan mentah yaitu resin, bekerja sama dengan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (CAP), dan non-woven fabric, bekerja sama dengan PT Herculon Carpet, telah berhasil dilokalkan, setelah sebelumnya di tahun 2016, bekerja sama dengan PT Pertamina, melokalkan engine oil lubricant.

"Saat ini TMMIN sedang dalam proses riset dan pengembangan penggunaan aluminium lokal untuk dipergunakan pada velg (wheel disc) bekerja sama dengan INALUM dan Pako. TKDN murni produk Toyota berada di angka 65 persen. Ke depannya, Toyota menargetkan bisa mencapai true localization hingga level 80 persen di 2020," ucap Bob.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X