Komentar Komunitas soal Larangan Pakai GPS Saat Berkendara

Kompas.com - 01/02/2019, 10:29 WIB
Pengemudi menggunakan Google Maps saat berkendara. IstPengemudi menggunakan Google Maps saat berkendara.

JAKARTA, KOMPAS.com — Keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menolak permohonan pengujian kembali penggunaan fitur Global Positioning System ( GPS) pada telepon genggam menuai banyak komentar.

Gugatan yang dilayangkan Toyota Soluna Community (TSC), diwakili oleh Ketua Umum Sajaya Adi Putra, pada 2018 lalu ini dilakukan sebagai peninjauan ulang terhadap Pasal 106 Ayat 1 dan Pasal 283 UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Pasal tersebut berbunyi, setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan wajib mengemudikan kendaraannya dengan wajar dan penuh konsentrasi. Frasa “penuh konsentrasi” yang kemudian diminta ditinjau untuk pelaksanaannya di lapangan agar tidak melarang penggunaan GPS dari telepon genggam.

Terkait keputusan ini beberapa anggota komunitas pun angkat bicara. Ketua Umum Avanza Xenia Indonesia Club Taufik menyebutkan bahwa keputusan mengenai GPS ini terdengar berlebihan, terlebih melihat kebutuhan saat ini terhadap sistem navigasi kendaraan.

Dilema Keputusan MK soal Larangan Penggunaan GPS Saat Berkendara

“Apalagi dilarang penggunaannya. Sebab, selama ini kalau digunakan dan ditempatkan pada posisi tepat, telepon genggam itu tidak mengganggu,” ucap Taufik yang dihubungi Kamis (31/1/2019).

Taufik mengungkapkan, anggota komunitas setuju bila penggunaan telepon genggam saat mengemudi, dalam hal ini membalas pesan atau texting while driving, adalah perbuatan salah. Sebab, hal ini sesuai dengan komitmen komunitas untuk menjalankan safety driving, yakni “No texting while driving”.

Suara lain diungkapkan Fariz, Presidium Honda Automotive Indonesia (HAI). Menurut dia, penggunaan GPS memang harus dilihat kasus per kasus atau sesuai dengan perilaku berkendara.

“Misal dia menggunakan GPS (memasukkan alamat, setting tujuan) saat kendaraan berjalan jelas dilarang. Tapi kalau GPS sudah tersetting, dan pengendara tidak perlu menggenggam alias hanya memonitor itu tidak masalah,” ucap Fariz.

Fariz memahami kekhawatiran rekan-rekan di TSC yang melihat pasal ini dapat dipukul rata pada pengendara di Indonesia. Menurutnya, hal seperti ini berlebihan dan merugikan kondisi lalu lintas itu sendiri.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X