M Wahab S
Pengamat F1 dan Otomotif Nasional

Komentator F1, penulis lepas, founder Forum Komunikasi Klub dan Komunitas Otomotif Indonesia (FK3O), Manager Operasional Shop & Drive PT Astra otoparts Tbk (1999 - 2001), General Manager PT Artha Puncak Semesta Indonesia. Akun twitter : @emwees.

kolom

F1: Mengapa Kita Kalah dari Vietnam?

Kompas.com - 25/01/2019, 10:09 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Jakarta, KOMPAS.com — Ketika beredar informasi bahwa pergelaran F1 akan diselenggarakan di sirkuit jalan raya Hanoi, Vietnam, mulai musim balap 2020, beberapa orang bereaksi sama atau serupa, mengapa tidak di Indonesia? Mengapa kita kalah bersaing menjadi tuan rumah dibanding Vietnam?

Apabila kalah cepat dengan Malaysia atau Singapora, yang memang sudah berhasil jadi host, atau mungkin dengan Thailand kok rasanya masih lebih bisa diterima dibanding kalau kalah dengan Vietnam.

Menurut saya, wajar saja pemikiran tersebut muncul, saya pun termasuk yang agak iri dengan situasi ini.

Baca juga: Indonesia Mau Punya Sirkuit MotoGP di Lombok?

Situasi yang berbeda melatarbelakangi terjadinya pergelaran ini, misal Malaysia yang menjadi tuan rumah pertama kali di musim balap 1999.

Sirkuit Sepang Tidak lagi gelar F1 di 2018motorsport.com Sirkuit Sepang Tidak lagi gelar F1 di 2018

Pemerintah

Gelaran tersebut sangat didukung pemerintahnya di bawah Perdana Menteri Mahatir dengan menyediakan sirkuit modern yang berdekatan dengan pusat pemerintahan Putra Jaya dan Kuala Lumpur International Airport.

Langkah-langkah penunjang seperti membuat kesepakatan dengan pemilik tim Sauber, Peter Sauber, melibatkan state oil company Petronas, yang tentunya bertujuan untuk menempatkan negara Malaysia menjadi lebih “dilihat dunia”.

Baca juga: Pengelola Sirkuit Sentul Segera Bertemu Dorna

Contoh sederhana, 20 tahun lalu tidak banyak orang tahu tentang Petronas. Tetapi sekarang semua orang tahu Petronas, apalagi mereka mensponsori dengan biaya yang tidak murah tim juara dunia F1 dalam lima tahun terakhir.

Suasana GP Singapura di Sirkuit Marina Bay.Getty Images via Al-Jazeera Suasana GP Singapura di Sirkuit Marina Bay.

Pengusaha properti

Grand Prix F1 Singapore yang dimulai musim 2008 mempunyai cerita berbeda. Kali ini peran pengusaha properti lokal kelahiran Sabah Malaysia, Ong Beng Seng, lebih dominan.

Pemerintah Singapura sangat mendukung langkah yang dilakukan Ong Beng Seng dengan menyediakan jalan raya di Marina Bay sebagai lokasi balapan serta mengukir sejarah sebagai lokasi balap malam F1 pertama kalinya.

Sebuah langkah brilian mengingat Singapura tidak memiliki lahan yang luas dan saat itu pemerintah ingin peran sektor pariwisata lebih ditingkatkan untuk menjadikan Singapura tetap menarik di kawasan Asia Tenggara.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.