Soal Investasi, Hyundai Indonesia Tunggu Kabar dari Prinsipal - Kompas.com

Soal Investasi, Hyundai Indonesia Tunggu Kabar dari Prinsipal

Kompas.com - 10/01/2019, 08:42 WIB
Pabrik perakitan mobil Hyundai di Jeonju, Korea Selatan.YONHAP / AFP Pabrik perakitan mobil Hyundai di Jeonju, Korea Selatan.

JAKARTA, KOMPAS.com - Hyundai Motor Company (HMC) sudah melakukan penandatanganan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) dengan pemerintah Indonesia pada Oktober 2018, soal investasi pabrik di Tanah Air.

Rencananya, pembangunan pabrik tersebut akan dimulai tahun ini. Lantas, bagaimana perkembangan terbarunya?

Menurut Jongkie D Sugiarto, Ketua Komite Tetap Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia untuk Korsel yang juga komisaris Hyundai Indonesia, mengatakan, masih menunggu keputusan atau informasi terbaru dari prinsipal.

"Kalau rencana pembangunan memang tahun ini, dan untuk tempatnya di mana masih dicari yang tepat," ucap Jongkie ketika dihubungi Kompas.com, Rabu (9/1/2019) sore.

Baca juga: Pabrik Mobil Hyundai di Indonesia Juga Produksi Mobil Listrik

Jongkie melanjutkan, secara nilai investasi juga tergolong besar, yakni sekitar 500 juta dollar Amerika Serikat (AS). Bahkan, bukan untuk pasar domestik melainkan diekspor ke berbagai negara di dunia.

All New Hyundai Santa Fe- All New Hyundai Santa Fe

"Prinsipal belum berbicara lebih dalam lagi dengan kami. Kami harapkan semuanya ini bisa terealisasi dengan cepat karena ini merupakan kabar dan keputusan baik buat kami," ujar Jongkie.

Menurut dia, sejauh ini prinsipal dan juga pemerintah Indonesia sudah membicarakan cukup serius ketika akhir tahun lalu bertemu di Korea Selatan. Kebetulan, Jongkie ikut menyaksikan penandatanganan kerjasama itu.

"Jadi kalau kami optimis pabrik itu bisa jadi di Indonesia. Kita sekarang menunggu kabar selanjutnya saja dari prinsipal," kata Jongkie.

Selain Indonesia, seperti dilansir laman reuters, Vietnam juga menjadi salah satu negara yang dipertimbangkan, untuk menjadi lokasi investasi Hyundai di kawasan Asia Tenggara.

Tentu saja ini menjadi tantangan sendiri buat pemerintah Indonesia, apakah bisa memenangkan hati produsen asal Korea Selatan tersebut.



Close Ads X