Lakukan Hal Ini Jika Berkendara Diguyur Abu Vulkanik

Kompas.com - 27/12/2018, 14:25 WIB
Pengendara motor mengenakan masker saat melintasi jalanan yang tertutup kabut asap tebal di Beijing, China. AFP / WANG ZHAOPengendara motor mengenakan masker saat melintasi jalanan yang tertutup kabut asap tebal di Beijing, China.
Penulis Stanly Ravel
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Pasca-tsunami, Gunung Anak Krakatu kembali menunujukan aktifitas. Bahkan dikabarkan letupan abu vulkanik sudah mulai keluar yang membuat stausnya meningkat menjadi siaga level III.

Bagi pengunjung ataupun masyarkat yang sedang mengendari mobil di wilayah tersebut, Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu, menyarankan untuk selalu waspada dan tetap memperhatikan sisi keselamatan.

"Biasanya saat ada aktivitas vulkanik akan dibarengi dengan debu yang menyebar. Dalam kondisi ini, pengendara perlu meningkatkan kewaspadaan karena sisi visibilitas akan menurun drastis. Usahakan tetap terkontrol dan jangan panik, nyalakan lampu untuk membantu visibilitas dan juga alat komunikasi bagi pengendara lainnya," ucap Jusri saat dihubungi Kompas.com, Kamis (27/12/2018).

Baca juga: Cara Diagnosa Kerusakan Mobil yang Terkena Tsunami

Saat abu vulkanik mulai turun dan menutupi kaca mobil, Jusri mengingatkan pengendara untuk tidak menyalakan wiper. Menurut Jusri, abu vulkanik memiliki sifat yang mengumpal saat terkena air atau cairan, sehingga justru bisa membuat kaca justru makin buram.

Bosch meluncurkan Advantage Wiper yang sudah disesuaikan dengan iklim tropis Asia, termasuk untuk Indonesia.Bosch Bosch meluncurkan Advantage Wiper yang sudah disesuaikan dengan iklim tropis Asia, termasuk untuk Indonesia.
Pengendara baiknya membersihkan kaca dengan benda kering, seperi lap atau disemprot dengan udara dari kompresor. Jangan lupa untuk membawa peralatan tambahan, seperti masker dan kaca mata untuk mencegah adanya iritasi dari dampak abu vulkanik.

Tidak kalah penting, Jusri juga menyarankan pengendara untuk aktif memantau perkembangan informasi di dunia media sosial. Terutama terkait dengan instansi yang menangani bencana, seperti Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Anak Krakatau Masih Keluarkan Abu Vulkanik, Tim BMKG Belum Bisa Mendekat

Hal ini penting dilakukan karena dengan demikian pengendara akan mendapat informasi yang bisa digunakan untuk menghindari daerah yang terdampak.

Aktivitas letupan abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda terpantau dari udara yang diambil dari pesawat Cessna 208B Grand Caravan milik maskapai Susi Air, Minggu (23/12/2018). KOMPAS/RIZA FATHONI Aktivitas letupan abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda terpantau dari udara yang diambil dari pesawat Cessna 208B Grand Caravan milik maskapai Susi Air, Minggu (23/12/2018).

"Pantau informasi mengenai daerah yang terdampak agar bisa menghindar, bersihkan kaca juga jangan pakai air, cukup kain kering atau lainnya. Apabila kondisinya sudah tidak memungkinkan untuk berjalan karena faktor visibilitas atau lainnya, lebih baik jangan memaksakan diri, cari lokasi yang aman dan menunggu hingga situasi lebih normal," ujar Jusri.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X