VW Meralat Pernyataan Rencana Hentikan Produksi Mesin Konvensional

Kompas.com - 13/12/2018, 08:42 WIB
New Volkswagen Tiguan VRS yang diperkenalkan pada hari pembukaan Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2018, di ICE, BSD City, Tangerang, Kamis (2/8/2018). Kompas.com/Alsadad RudiNew Volkswagen Tiguan VRS yang diperkenalkan pada hari pembukaan Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2018, di ICE, BSD City, Tangerang, Kamis (2/8/2018).


JAKARTA, KOMPAS.com
- Beberapa waktu lalu, Volkswagen melalui Head of Strategy, Michael Jost, mengumumkan akan menghentikan produksi mesin pembakaran konvensional pada 2026. Pernyataan ini ternyata kemudian diralat oleh Head of Technical Frank Welsch.

Dikutip dari Autocar.co.uk, Welsch mengungkapkan perusahaannya akan terus memproduksi mesin konvensional hingga lebih dari 2026. Namun dengan teknologi terbaru dan fokus utama Volkswagen tetap pada kendaraan listrik.

Ini dikatakan Welsch mengingat pasar elektrik akan bertumbuh besar di Eropa. Sedangkan pasar negara lain, mesin konvensional tetap dibutuhkan.

“Pernyataan tersebut tidak sepenuhnya benar (menghentikan produksi mesin konvensional pada 2026). Apa yang sebenarnya terjadi adalah, orang-orang berbicara mengenai 2040 dimana target penghentian penjualan mesin konvensional akan dilakukan di Eropa. Tapi Eropa bukan hanya target pasar kami, masih banyak negara lain dengan regulasinya untuk mesin konvensional,” ucap Welsch.

Menperin Buka Suara Soal Investasi VW di Indonesia

Welsch mengungkapkan pihaknya akan terbuka dengan pengembangan mesin pembakaran konvensional yang lebih baik dan efisien. Ini terus dilakukan setelah 2026.

Ketika ditanya mengenai waktu dalam pengembangan mesin terbaru akan membuat VW lebih lama mempersiapkan produk elektriknya, Welsch menjawab hal tersebut tidak akan terjadi. Ia menyebutkan produsen lain saat ini tidak tinggal diam untuk ikut dalam produk mesin elektrik.

Pasar seperti Eropa dan China dikenal dengan kebijakan pasarnya yang memaksa perubahan ke produk kendaraan listrik. Sedangkan kebutuhan mobil murah dengan mesin bensin dan diesel masih banyak di negara berkembang dimana infrastruktur untuk mobil listrik seperti pengisian daya belum banyak tersedia.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X