Mitsubishi Sebut PHEV Cocok buat Indonesia - Kompas.com

Mitsubishi Sebut PHEV Cocok buat Indonesia

Kompas.com - 06/12/2018, 15:42 WIB
Kompas.com menjajal SUV terbaru Outlander PHEV di pabrik Mitsubishi di Okazaki, Jepang.MMC Kompas.com menjajal SUV terbaru Outlander PHEV di pabrik Mitsubishi di Okazaki, Jepang.

JAKARTA, KOMPAS.com - Geliat mobil listrik di Tanah Air mulai ramai diperbincangkan. Hal ini pun perhatian PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) angkat bicara soal mobil listrik mana yang lebih dulu cocok untuk di Indonesia.

Menurut Ogi Ikematsu, selaku Director of Coordination & Development Division MMKSI, dari untuk tahap mempromosikan mobil listrik bisa dimulai dari model Plug-in Hybrid Electric Vehicle ( PHEV) leih dulu.

"Untuk mempromosikan kendaraan listrik bisa dimulai dari model PHEV, baru kendaraan listrik murni atau EV, itu satu cara terbaik untuk mempromosikan lebih cepat kendaraan listrik," kata Ikematsu kepada wartawan Gedung BPPT, Rabu (5/12/2018).

Baca juga: Perpres Kendaraan Listrik Masuk Tahap Penyelarasan

Lebih lanjut Ikematsu menjelaskan, dalam memasuki tahapan mensosialisasikan atau mempromosikan mobil listrik harus didukung dengan banyaknya fasilitas pengisian daya. Bahkan jangan hanya terfokus pada area-area umum saja tapi juga di rumah pribadi.

Menuru Ikematsu, masih banyak sebagian besar orang yang memiliki ketakutan menggunakan mobil listrik dengan masalah baterai yang habis. Oleh karena itu, untuk tahap awal akan lebih baik dimulai dengan jenis hybrid seperti Outlander PHEV yang masih bisa mengandalkan tenaga dari bahan bakar minyak (BBM).

Charging station milik BPPT untuk kendaraan listirik.stanly Charging station milik BPPT untuk kendaraan listirik.

"Jadi PHEV menjadi cara terbaik untuk memulia market kendaraan listrik, PHEV dulu lalu EV," kata Ikematsu.

Baca juga: Pembangunan Pabrik Baterai Morowali Dimulai Sebulan Lagi

Ketika ditanya apakah nantinya Mitsubishi juga akan melakukan peraktian lokal mobil listrik di Indonesia, Ikematsu menjelaskan bila hal tersebut masih cukup sulit, karena selain masalah teknologi ada hal lainnya yang menjadi pertimbangan.

"Kami butuh melihat pasarnya lebih dulu, baru setelah itu mempertimbangkan untuk memproduksi. Saat ini banyak berita mengenai pabrik baterai, dan itu juga dibutuhkan untuk produksi lokal, karena baterai adalah komponen inti dari kendaraan listrik. Jika Indonesia punya pabrik baterai akan lebih mudah bagi kami untuk memproduksi secara lokal," ucap Ikematsu.



Close Ads X