Bangun Pabrik Baterai, Indonesia Menolak Hanya Jadi Basis Produksi

Kompas.com - 30/11/2018, 07:22 WIB
Baterai lithium-ion sebagai sumber tenaga motor listrik BMW i8 bisa diisi ulang lewat listrik rumahan, BMW Indonesia menjual i8 berikut instalasi perangkat pengisian ulang untuk dipasang di rumah. Febri Ardani/KompasOtomotifBaterai lithium-ion sebagai sumber tenaga motor listrik BMW i8 bisa diisi ulang lewat listrik rumahan, BMW Indonesia menjual i8 berikut instalasi perangkat pengisian ulang untuk dipasang di rumah.

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, telah mengumumkan rencana pembangunan pabrik baterai lithium di Morowali, Sulawesi Tengah tahun depan. Pembangunan pabrik ini diklaim menjadi pabrik lithium battery terbesar di dunia.

Rencana pemerintah ini disambut pembimbing dan ketua tim mobil listrik BLITS dari ITS Surabaya, Muhammad Nur Yuniarto. Nur yang sekaligus Direktur Eksekutif PUI-SKO ITS ini berharap Indonesia dapat memaksimalkan potensi yang ada untuk berada di barisan depan industri kendaraan listrik dunia.

“Kita sambut baik. Namun baiknya, kemampuan nasional untuk rekayasa dan desain juga ditingkatkan. Bukan hanya sebagai basis produksi saja,” ucap Nur yang dihubungi, Kamis (29/11/2018).

Nur juga menanyakan kesiapan produksi pabrik tersebut. Siapakah yang akan menjadi pemilik pabrik, desain baterai dari mana? Nur berpandangan jika hanya sebagai basis produksi saja, sungguh sangat disayangkan.

Baca juga: BMW Pilih Thailand Ketimbang Indonesia untuk Produksi Baterai

“Sudah bosan kalau jadi negara basis produksi saja, bukan basis rekayasa. Harapannya itu,” ucap Nur.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Nur mengungkapkan sampai saat ini ada hambatan yang membuat Indonesia urung menjadi negara yang kuat di rekayasa dan desain. Ia berharap ke depan pemerintah memperhatikan kekurangan ini.

“Kita harap negara terus mendorong dan mendanai riset dan atau transfer teknologi,” ucap Nur.

Menteri Luhut mengungkapkan pembangunan pabrik lithium battery tersebut jadi fokus pengembangan yang sangat penting karena Indonesia dapat mengontrol market kendaraan listrik di dunia. 

“Jadi akan bermuara pada lithium battery. Ini adalah faktor kunci karena akan menekan harga mobil listrik, lithium battery mengarah pada kandungan nikel yang semakin besar. Kita penghasil nikel terbesar di dunia dan harganya juga merangkak naik sekarang ini. Lithium battery juga bisa didaur ulang dan apabila berjalan tentu ini juga akan menekan emisi gas rumah kaca dari kendaraan berbahan bakar fosil,” ucap Luhut.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.