BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan 76 Rider

Balapan Motor Paling Sulit itu Supermoto

Kompas.com - 18/11/2018, 08:37 WIB
Trial Game Asphalt (TGA) Race kedua kelas FFA 250 di Sirkuit Mijen, Semarang, Sabtu (7/4/2018). KOMPAS.com/Mikhael Trial Game Asphalt (TGA) Race kedua kelas FFA 250 di Sirkuit Mijen, Semarang, Sabtu (7/4/2018).
|

SEMARANG, KOMPAS.com – Menjelang malam, suhu yang tadinya lembab dan panas mendadak berubah menjadi dingin setelah hujan lebat melanda sirkuit Mijen, Semarang, Sabtu (7/4/2018). Trek sirkuit yang tadinya kering seketika basah dan licin.

Perubahan cuaca itu membuat pebalap supermoto yang sedang adu cepat jadi kaget. Satu-persatu pebalap masuk ke garasi tim untuk mengganti ban kering tunggangannya jadi ban basah.

Karena hujan tak kunjung reda dan banyak bagian trek tergenang air, panitia event balap Trial Game Asphalt (TGA) pun memberhentikan lomba. TGA adalah balap berbasis motor trail dengan menggunakan trek aspal dan tanah.

Usai hujan berhenti, satu persatu pebalap kembali ke lintasan. Balapan pun kembali dimulai. Namun, terlihat ada yang berbeda kali ini, pebalap nampak tak segarang lagi memacu kuda besinya seperti sebelum hujan.

“Saat race pertama kelas Free For All (FFA) 250 cc lintasan basah jadi enggak bisa maksimal," kata Doni Tata kepada media termasuk Kompas.com kala itu.

Lintasan yang licin adalah penyebab pebalap tak bisa memacu maksimal tunggangannya. Meski sudah menggunakan ban basah, kesalahan sedikit saja akan berakibat fatal karena bisa membuat mereka ndlosor alias terjatuh.

Baca juga: Dengan Olahraga Ekstrem, Stres Hilang, Masa Depan Cerah

Terlebih balapan dengan motor trail di trek aspal juga punya kesulitan yang tinggi. Hal ini diakui Doni Tata.

Pembalap yang pernah berpartisipasi dalam ajang balap dunia kelas 250 cc atau Moto 2 ini mengatakan, balapan supermoto punya tantangan tersendiri karena stang kemudi motor lebih lebar dan ketinggian kuda besi lebih tinggi.

"Makanya kalau sedang menikung posisi tubuh saya tidak terlalu rebah seperti di road race ( motor bebek) dan sport, takut jatuh karena bobot sepeda motor lebih berat dan lebih tinggi," kata Doni.

Untuk itu, kata dia, dibutuhkan perhitungan matang saat melibas trek di sana bila tak mau berakhir ndlosor. Dengan begitu #NyaliAjaNggaCukup untuk bisa balapan apalagi menjadi juara di kejuaraan TGA ini.

Pebalap Trai Game Asphalt (TGA) Doni Tata Pradita di wawancara dengan media elektronik usai memenang TGA seri Mijen, Semarang awal April 2018.Dok. Pribadi Doni Tata Pradita Pebalap Trai Game Asphalt (TGA) Doni Tata Pradita di wawancara dengan media elektronik usai memenang TGA seri Mijen, Semarang awal April 2018.
Selain persoalan menikung, rider asal Yogyakarta ini mengaku bila balapan supermoto di TGA lebih menguras energi.

Pasalnya, dalam balapan tersebut ada trek rintangan lompat yang harus dilalui pembalap, sehingga membuat rider harus mengeluarkan tenaga ekstra.

"Rasa letih saya bertambah 30 persen lebih banyak dibanding rasa letih setelah selesai mengikuti balapan road race (bebek)," tutur Doni.

Adapun soal settingan motor, Doni mengakui bahwa untuk mendapatkan setelan yang pas di supermoto itu lebih sulit. Ini karena banyak komponen di motor yang bisa disetel sehingga butuh waktu lebih untuk penyesuaian.

Baca juga: Kisah Pebalap 18 Tahun Taklukkan Quarter Pipe Ramp FMX

Deretan tantangan yang dikatakan Doni tersebut belum termasuk dengan waktu balapan yang di gelar pada malam hari. Bagi rider yang terbiasa mengikuti balapan pada siang hari biasanya butuh adaptasi untuk bisa nyetel dengan balapan malam hari.

Perlu diketahui, dalam gelaran TGA, race pada masing-masing kelas berlangsung dua kali, sore dan malam hari.

Hasil dari dua race tersebut kemudian diakumulasi. Pebalap yang mengumpulkan poin terbanyak akan keluar sebagai juara umum.

Pebalap yang berhasil finis pertama akan mendapat 25 poin, lalu finis kedua (22 poin), ketiga (20), keempat (18), kelima (16), keenam (14), ketujuh (14), kedelapan (13), kesembilan (12), dan seterusnya sampai urutan kedua puluh (1).

Doni sendiri pada balapan di kelas FFA 250 itu berhasil menjadi yang terbaik dengan torehan waktu 8 menit 58,449 detik. Mengungguli rider asal Malang, Farudilla Adam di posisi kedua dan Ivan Harry di peringkat ketiga.

Selain seri Mijen di Semarang, gelaran TGA 2018 juga berlangsung di Yogyakarta (11-12 Mei 2018), Solo (6-7 Juli 2018), Boyolali (14-15 September 2018), dan Malang (14-15 Desember 2018).

Kelas yang dilombakan terdiri dari kelas utama, yaitu FFA 250, Trail 175 Open, dan Trail 175 Non Pro. Lalu kelas pendukung yang terdiri dari FFA 450, Trail 250 open, Trail 250 Non Pro, Trail 175 Komunitas, 150 Trail komunitas, dan FFA Master.

Sementara itu, untuk kategori peserta balapan diklasifikasikan menjadi Profesional, Non Profesional, Komunitas (Kelas khusus untuk orang-orang yang belum pernah ikut balapan), dan Master (pebalap yang sudah pensiun)

Bagaimana, tertarik mencoba tantangan balapan supermoto di Trial Game Asphalt?


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya