Konsumsi BBM Mobil Hybrid di Indonesia Capai 56,7 Kpl

Kompas.com - 07/08/2018, 14:10 WIB
Toyota Prius Plug-In Hybrid. KOMPAS.com / GHULAM M NAYAZRIToyota Prius Plug-In Hybrid.

TANGERANG, KOMPAS.com – Sejak kick-off pada awal Juli 2018 lalu, kerjasama riset dan studi teknologi kendaraan ramah lingkungan Kementerian Perindustrian, Toyota Indonesia dan enam perguruan tinggi negeri Indonesia, kesimpulan sementara.

Agus Purwadi, Electrical Power Engineering Research Group Institut Teknologi Bandung (ITB) yang juga perwakilan peneliti dari enam PTN menuturkan, hasil studi awal ini bakal memberikan rekomendasi kepada para pelaku industri, pembuat regulasi dan potensial konsumen.

Pertama, kata Agus, model mobil hybrid dan plug in hybrid (PHEV) menunjukkan penurunan konsumsi bahan bakar dan emisi CO2 secara signifikan, dibanding dengan mobil internal combustion engine (ICE).

Berdasarkan data berkendara sehari-hari, rata-rata konsumsi BBM mobil konvesional mencapai 10,2 kpl (kilometer per liter), dengan jarak berkendara 2.272 km selama pengukuran 44 hari dari 90 hari. Kemudian hybrid 22,7 kpl jaraknya 1.990 kilometer, sedangkan PHEV mencapai 56,7 kpl menempuh jarak 1.445 km.

Baca juga: Jokowi Janjikan Terbitnya Regulasi Kendaraan Listrik Bulan Depan

Toyota memarkan Toyota Prius di GIIAS 2017Otomania Toyota memarkan Toyota Prius di GIIAS 2017

Gambaran keduanya, pada aplikasi versi PHEV pada 2017, hanya sekitar 6,07 persen konsumen (dengan daya listrik rumah minimal 2.200 VA volt ampere) memenuhi syarat mengecas baterai mobil PHEV. Meski begitu, harus menambahkan fitur peringatan keamanan pada instalasi mereka.

Ketiga, tema umum soal teknologi masa depan di sektor transportasi dengan penggunaan kendaraan berpenggerak listrik, mampu menghemat energy dan mereduksi emisi karbon.

“Pada kendaraan hybrid electric vehicle (HEV), asumsi penurunan emisi CO2 dalam satu tahun dengan total perkiraan jarak tempuh 10.000 kilometer mencapai 55 persen, dibanding mesin konvensional. Sementara pada PHEV dengan asumsi sama, penurunannya 65 persen,” ujar Agus.

Kesimpulan keempat, kata Agus, untuk memperluas total produksi nasional dan mengejar competitiveness, industri otomotif dalam negeri perlu menyelaraskan teknologi kendaraan, untuk menyesuaikan dengan tren global.

Baca juga: Kendala Perpres Kendaraan Listrik

BLITS, mobil listrik karya kolaborasi antara Universitas Budi Luhur dan Institut 10 November Surabaya.Dokumen/ITS dan UBL BLITS, mobil listrik karya kolaborasi antara Universitas Budi Luhur dan Institut 10 November Surabaya.

Riset terdiri dari dua tahap di mana yang pertama, riset akan dilakukan bersama Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Indonesia (UI). Selanjutnya, tahap ke-2, dengan Universitas Sebelas Maret (UNS), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan Universitas Udayana.

Kendaraan listrik yang digunakan di dalam riset kali ini jenis Hybrid dan Plug-in Hybrid, yang dibandingkan dengan kendaraan konvensional yang telah menggunakan teknologi advanced engine. Ketiga mobilnya bermerek Toyota.

Poin-poin yang akan diambil datanya mulai dari user convenience study, technical characteristic study, overall environment study, industry, social impact study, serta policy and regulation study. Diharapkan, bisa didapatkan perbandingan yang komprehensif, antara kendaraan jenis EV dan PHEV dengan jenis ICE.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X