Masih Banyak yang Belum Paham Batas Kecepatan di Jalan

Kompas.com - 23/07/2018, 20:42 WIB
Kecelakaan tunggal di Jalan Kebayoran Lama, pengemudi malah tak sadar alami kecelakaan, Rabu (18/7/2018) KOMPAS.com/ RYANA ARYADITA UMASUGI Kecelakaan tunggal di Jalan Kebayoran Lama, pengemudi malah tak sadar alami kecelakaan, Rabu (18/7/2018)

JAKARTA, KOMPAS.com - Salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat keselamatan bagi pengendara di jalan raya adalah kecepatan. Kecepatan di sini berpengaruh tidak hanya pada saat jalan lengang namun juga saat mengalami kemacetan.

Direktur Kamsel Korlantas Polri Chryshnanda Dwilaksana mengungkapkan, kecepatan atau speed jadi faktor penentu keselamatan berkendara, di bawah masalah penggunaan helm bagi pengendara motor.

"Tidak peduli kecepatan minimal dan maksimal, selama ini para pengendara mobil atau motor tidak memahami mengapa ada pembatasan kecepatan yang ditunjukkan dengan rambu. Kita sering lupa, setiap harinya 60 sampai 80 orang meninggal di jalan." ucap Chryshnanda saat ditemui pekan lalu.

Untuk memahami kecepatan, Chryshnanda mengungkapan teori kecepatan yakni S (jarak) = V (kecepatan) x T (waktu). Jika dipahami, seseorang tahu jarak yang akan dia tempuh dapat tercapai dengan waktu dan kecepatan yang diinginkan.

Baca juga: Rawan, Tol Cipali Bakal Ditambah Rambu Kecepatan

Chryshnanda mengungkapkan, selama ini jika kecepatan minimal tidak terpenuhi maka akan timbul masalah berupa kemacetan. Kemacetan ini secara ekonomi merugikan karena terjadi pengeluaran yang tidak terhitung.

"Kalau lancar, mendorong pengemudi melebihi kecepatan maksimal. Jadinya black spot atau rawan kecelakaan. Ini yang perlu kita dorong, pemahaman tentang kecepatan dalam keselamatan berkendara pada pengemudi dan pengendara di Indonesia," ucap Chryshnanda.

Untuk menyelesaikan persoalan ini sebenarnya ada teknologi yang dapat diterapkan seperti electronic road pricing, speed trap kamera, dan lain sebagainya. Namun untuk menerapkan teknologi tersebut memang memerlukan kesediaan sarana dan prasarana yang mencukupi.

"Untuk saat ini setidaknya kita memiliki rambu kecepatan yang cukup banyak di tiap kota. Kasih rambu dulu . Nomor satu di tol, batas kecepatan harus ada. Tidak perlu muluk-muluk, rambunya dulu. Ketika kita dapat mengendalikan kecepatan kita dapat merubah wajah transportasi jadi lebih baik," ucap Chryshnanda.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X