Rizka S Aji

 

Pemerhati masalah industri otomotif tanah air. Pernah berkecimpung menjadi jurnalis otomotif selama 15 tahun. Penyunting buku “Kiprah Toyota Melayani Indonesia (Gramedia; 2004)’ ; 50 Tahun Astra (Gramedia). Penggiat blog sosial  www.seribuwajahindonesia.com. Penyuka fotografi hitam putih

kolom

Kendaraan Listrik dan Industri Otomotif Indonesia

Kompas.com - 02/06/2018, 09:02 WIB
Ha:mo, akronim dari Harmonious Mobility Network, menciptakan sistem transportasi berbasis teknologi listrik untuk negara berkembang, dimulai dari kerja sama di dalam lingkungan Universitas Chulalongkorn, Bangkok, Thailand, Selasa (30/1/2018). Agung Kurniawan/Kompas.comHa:mo, akronim dari Harmonious Mobility Network, menciptakan sistem transportasi berbasis teknologi listrik untuk negara berkembang, dimulai dari kerja sama di dalam lingkungan Universitas Chulalongkorn, Bangkok, Thailand, Selasa (30/1/2018).

Kendaraan Listrik dan Arah Kebijakan Otomotif Nasional

Kini harapan mulai ditimbulkan oleh pemerintahan Joko Widodo dengan akan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah perihal Produksi kendaraan listrik oleh Badan Usaha Milik Negara. Harapannya, dengan adanya kendaraan listrik ini, bisa menarik gerbong industri komponen otomotif yang melengkapinya.

Efek bola salju industri otomotif memang tak diragukan lagi. Sedikitnya 15.000 komponen untuk menjadikan sebuah mobil utuh. Artinya, andai separuh komponen itu di produksi di dalam negeri, paling tidak ada 7.500 perusahaan komponen yang terlibat. Itu baru di tier 1, belum di tier 2, 3 dan seterusnya.

Tak heran bila pemerintah hingga kini masih memasukkan industri otomotif sebagai salahsatu unggulan dalam Kebijakan Industri Nasional (KIN) 2015-2019.  Apalagi, Joko Widodo, sempat menggadang-gadang akan kembali menelurkan mobil nasional dengan menunggangi ESEMKA dari Solo ke Jakarta, sebagai simbol akan menelurkan kembali mobil nasional.

Kenyataannya, mewujudkan mobil nasional itu tak semudah apa yang direncanakan. Industri otomotif nasional sudah terbentuk sebagai sebuah habitat yang didalamnya tak lagi membicarakan merek atau komponen lokal. Akibat adanya pasar bebas dan terbukanya pasar, mobil nasional seperti tak relevan lagi dibicarakan.

Pun demikian dengan niat pemerintah untuk membangun industri otomotif melalui kendaraan listrik. Walaupun dukungan lembaga-lembaga pemerintah sudah ada, perlu sinergi dan kepatuhan yang tidak sepotong-sepotong.

Baca juga: Indonesia Punya Bahan Baku Baterai Mobil Listrik

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Padat modal

Artinya, industri otomotif adalah industri yang padat modal dan padat teknologi. Modal yang besar mutlak diperlukan untuk menerobos dominasi para pemain besar terdahulu.

Tengok apa yang dilakukan Tesla, produsen mobil listrik Amerika Serikat. Elon Musk, CEO Tesla mengalokasikan lebih dari 1,4 miliar Dollar AS (setara Rp 19,6 triliun dalam kurs Rp14.000) untuk melakukan riset mobil Tesla (www.statista.com). Dana sebesar itu belum termasuk promosi yang membawa mobil Tesla mengitari bumi dengan peluncuran roket SpaceX beberapa waktu lalu.

Biaya besar selalu menjadi kendala dalam pengembangan industri otomotif nasional. Oleh karena itu, meski pemerintah sudah banyak memberikan dukungan berupa insentif fiskal maupun infrastruktur, rasanya masih belum cukup untuk mendorong industri otomotif khususunya kendaraan listrik, untuk benar-benar datang dari dalam negeri yang terbebas dari campur tangan korporasi asing dengan modal besar.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.