Sejarah Munculnya Bom Mobil dalam Aksi Teror - Kompas.com

Sejarah Munculnya Bom Mobil dalam Aksi Teror

Kompas.com - 14/05/2018, 10:45 WIB
Teror bom mobil bunuh diri kembali terjadi di Kabul, Afghanistan, pada Sabtu (17/3/2018). Serangan yang diklaim Taliban kali ini menewaskan dua warga sipil.AFP/WAKIL KOHSAR Teror bom mobil bunuh diri kembali terjadi di Kabul, Afghanistan, pada Sabtu (17/3/2018). Serangan yang diklaim Taliban kali ini menewaskan dua warga sipil.
 
Jakarta, KOMPAS.com - Serangkaian aksi pengeboman di sejumlah gereja terjadi di Surabaya pada Minggu (14/5/2018). Salah satunya menggunakan mobil.
 
Penggunaan mobil untuk aksi teror pengeboman di Indonesia bukan kali ini saja terjadi. Aksi serupa pernah dilakukan, diantaranya saat Bom Bali I pada 2002 dan Kedubes Australia, 2004.
 
Mobil banyak digunakan untuk aksi pengeboman karena dapat membawa bahan peledak dalam jumlah besar ke lokasi sasaran. Tak diketahui pasti kapan awal mula cara ini digunakan.
 
 
 
Tentara Somalia berjaga di sekitar lokasi ledakan bom mobil yang terjadi pada Oktober 2017 lalu. Ledakan bom mobil kembali terjadi di ibu kota pada Kamis (22/3/2018) menewaskan setidaknya 14 orang.AFP/MOHAMED ABDIWAHAB Tentara Somalia berjaga di sekitar lokasi ledakan bom mobil yang terjadi pada Oktober 2017 lalu. Ledakan bom mobil kembali terjadi di ibu kota pada Kamis (22/3/2018) menewaskan setidaknya 14 orang.
 
Dalam salah satu artikel berjudul A History of Car Bomb yang dimuat di Asia Times, disebutkan bahwa pada September 1920, seorang imigram Italia bernama Mario Buda memarkir gerobak kudanya tak jauh dari kantor perusaahaan JP Morgan di New York.  
 
Setelah itu, ia meninggalkan gerobak kudanya dan menghilang. Seorang petugas pos yang tak jauh dari lokasi menemukan sebuah selebaran bertuliskan "bebaskan para tahanan politik atau kalian semua akan mati". Beberapa bulan sebelumnya, rekan-rekan Mario diketahui ditangkap.
 
Tak lama kemudian, gerobak kuda yang ternyata membawa dinamit itu meledak. 
 
 
Para petugas mengevakuasi korban serangan bom bunuh diri di Karrada, Baghdad, Minggu (3/6/2016).AFP Para petugas mengevakuasi korban serangan bom bunuh diri di Karrada, Baghdad, Minggu (3/6/2016).
Pada Januari 1947, kelompok pro fasis dari Israel, Stern Gang membawa satu truk bahan peledak ke kantor polisi Inggris di Haifa, Palestina. Truk kemudian meledak dan menewaskan empat orang dan melukai 140 lainnya, tak cuma polisi Inggris, tapi juga warga Palestina.
 
Setelah itu, bom mobil mulai digunakan secara sporadis di berbagai belahan dunia. Salah satunya bom truk bunuh diri yang menghancurkan kedutaan AS dan barak Korps Marinir di Beirut, Lebanon pada tahun 1983.
 
Beberapa tahun terakhir, bom mobil juga tercatat cukup sering terjadi di negara-negara yang masih didera konflik, dari mulai Irak ataupun Afghanistan.
 
 
Sebuah bom mobil meledak di sebuah restoran di Mogadishu, Somalia, Kamis (25/8/2016) malam sehingga tujuh orang tewas.EPA/BBC Sebuah bom mobil meledak di sebuah restoran di Mogadishu, Somalia, Kamis (25/8/2016) malam sehingga tujuh orang tewas.
Bom mobil dapat diaktifkan dengan berbagai cara, dari mulai saat pintu dibuka, mesin dihidupkan, pedal gas atau rem diinjak, menyalakan sekering atau melalui perangkat pengatur waktu.
 
Penggunaan bom mobil terdiri atas dua kategori, yang pertama bertujuan mengincar orang yang ada di dalam kendaraan. Cara ini biasanya dilakukan dalam peristiwa pembunuhan. 
 
 
Sedangkan yang kedua, mengincar orang-orang atau merusak bangunan yang ada di sekitar mobil. Untuk yang kedua ini, pelaku bisa pergi meninggalkan mobil ataupun mati meledakan diri bersama dengan mobilnya itu.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Close Ads X