Di Indonesia, Ambulans Tidak Diberi Jalan, Ada Empati yang Kurang

Kompas.com - 19/04/2018, 07:22 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Kegiatan mengawal ambulans yang dilakukan pengendara motor mengundang komentar. Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu mengungkapkan, fenomena ini merupakan bentuk pelajaran masyarakat mengenai etika di jalan raya.

"Fenomena ini tidak dijumpai di negara lain. Di sini, ambulan terpaksa dikawal saat hendak menolong orang lain agar jalur evakuasi lancar tidak tersendat. Lihat fenomena ini ada rasa empati yang kurang dari masyarakat yang menghalangi jalur mobil ambulans," ucap Jusri saat dihubungi pada Selasa (17/4/2018).

Jusri mengungkapkan, apa yang dilakukan komunitas atau pengendara mengawal ambulans ini merupakan kegiatan yang membahayakan individu tersebut. Namun, ini juga sebagai pelajaran bagi pengguna jalan lain.

"Saya salut dan hormat dengan komunitas dan pengendara yang mengawal ambulans meski ini kegiatan yang membahayakan dan berisiko. Tapi ini juga jadi pelajaran penting karena fenomena menghalangi jalan ambulans dan damkar sangat memalukan bagi kondisi pengguna jalan di Tanah Air," ucap Jusri.

BACA: Ambulans Tidak Diberi Jalan, Pasien Kehilangan Nyawa

Jusri mengingatkan bahwa pengguna jalan wajib memberikan jalan jika ada sirene ambulans dan damkar. Sebab, keduanya mengemban tugas menyangkut keselamatan orang banyak.

Pegiat keselamatan berkendara ini juga berharap akan lebih banyak lagi yang mengingatkan untuk memberikan jalan bagi ambulans dan damkar, bisa dari pejalan kaki atau pengguna jalan lain.

Mercedes-Benz Sprinter Ambulansistimewa Mercedes-Benz Sprinter Ambulans

"Mungkin harus dengan cara massal membebaskan jalan raya dari ketidaktahuan terhadap peran ambulans dan damkar," ucap Jusri.

Sebelumnya, sebuah video diunggah di media sosial memperlihatkan sebuah mobil menghalangi jalur ambulans di Kota Medan. Ambulans yang sedang dalam tugas membawa orang sakit tersebut, meski sudah membunyikan sirene, tidak membuat sebuah mobil rela membuka jalan.

Video tersebut kemudian viral dan saat ini sudah disukai 1.865 warganet.

 

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.