10 Penyebab Macet dan Kurangnya Penyelesaian

Kompas.com - 09/03/2018, 08:42 WIB
Ilustrasi kemacetan jakarta Arimbi RamadhianiIlustrasi kemacetan jakarta

Jakarta, KOMPAS.com – Khususnya di kota besar di Indonesia, apalagi Jakarta, kemacetan lalu lintas hampir setiap hari terjadi. Entah sampai kapan permasalahan ini bisa selesai dialami.

Direktur Keamanan dan Keselamatan (DirKamsel) Korlantas Polri Brigjen Pol Chryshnanda Dwilaksana mengatakan, kemacetan semestinya menjadi masalah besar, karena lalu lintas merupakan urat nadi kehidupan. 

Namun faktanya, kata Chryshnanda, di kota-kota besar di Indonesia sering  dianggap sebagai hal biasa. Dirinya menyebut kalau kemacetan sendiri disebabkan adanya perlambatan, yang disumbang setidaknya oleh 10 faktor.

“Sayangnya lagi faktor perlambatan ini hampir tidak pernah dipikirkan solusinya secara holistik atau sistemik. Cara penangananya masih parsial konvensional bahkan manual. Secara strategis dan politis hampir tidak tersentuh,” ujar Chryshnanda kepada Kompas.com,  Kamis (8/3/2018).

Faktor penyumbang perlambatan pertama, yaitu kapasitas jalan yang tidak memadai. Kepadatan arus lalu lintas tidak pernah dipikirkan berapa persentase  over kapasitas di jalur tersebut. Analisa petugas yang berada di back office, mungkin sama sekali tidak memahami atau mungkin tidak pernah terpikir soal aplikasi digital traffic count untuk mengetahui dan menjawab tingkat kepadatan arus.

Baca juga : Rawan Kecelakaan dan Bikin Macet, Perlintasan Kereta Akan Ditutup

“Tatkala kepadatan arus sudah melampaui batas maksimal atau potensi terjadinya kemacetan parah, harusnya diambil tindakan pengalihan arus atau setidaknya ada upaya memberi informasi kepada publik, untuk dapat melalui jalan alternatif,” kata Chryshnanda.

Kedua faktor jalan, di mana kondisi jalan yang bottle neck atau terjadi penyempitan, perlu dilakukan upaya-upaya rekayasa untuk menyelesaikannya, atau setidaknya ada tindakan pengaturan untuk mempercepat arus dengan mengatasi faktor perlambatan lainya.

Pengendara melintas di jalan layang Pancoran usai dibuka di Jalan Layang Pancoran, Jakarta, Selasa (16/01/2018). Petugas Kepolisian dan Dinas Bina Marga DKI Jakarta melakukan pembukaan arus lalu lintas jalan layang Pancoran sebagai salah satu upaya untuk mengurangi kemacetan di jalan protokol Ibu KotaKOMPAS.com / ANDREAS LUKAS ALTOBELI Pengendara melintas di jalan layang Pancoran usai dibuka di Jalan Layang Pancoran, Jakarta, Selasa (16/01/2018). Petugas Kepolisian dan Dinas Bina Marga DKI Jakarta melakukan pembukaan arus lalu lintas jalan layang Pancoran sebagai salah satu upaya untuk mengurangi kemacetan di jalan protokol Ibu Kota

“Kemudian ada faktor kerusakan jalan, tikungan, persimpangan sebidang, tanjankkan, traffic light, sistem penerangan jalan, gerbang tol yang belum menggunakan sistem electronic toll collecting, serta berbagai faktor jalan lainya yang menyebabkan para pengemudi mengurangi kecepatannya,” tutur Chryshnanda.

Ketiga, faktor kendaraan. Urusan ini, terkadang standar operasional kendaraan sering diabaikan. Saat mobil digunakan, bisa saja pecah ban, patah as, atau tidak memenuhui batas standar kecepatan minimal, over loading dan sebagainya.

“Ini semua menimbulkan perlambatan. Sistem kontrol yang ada untuk me-manage kendaraan yang digunakan berlalu lintas, lagi-lagi belum terintegrasi secara online untuk mengendalikan atau setidaknya bisa menjadi solusi pengurai,” ujar Chryshnanda.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X