Soal Anggapan Politisasi “Bus Listrik”, Moeldoko Serahkan ke Rakyat

Kompas.com - 02/03/2018, 11:05 WIB
Bus listrik milik PT Mobil Anak Bangsa. KOMPAS.com / GHULAM M NAYAZRIBus listrik milik PT Mobil Anak Bangsa.

Jakarta, KOMPAS,com – Kendaraan listrik saat ini sudah menjadi isu nasional, di mana sebelumnya baru sekedar perbincangan “bawah tanah” saja. Pasalnya masih banyak yang beranggapan ini hanya sekedar angan-angan, terasa masih tabu di Indonesia.

Namun level obrolan kendaraan listrik atau tagline besarnya kendaraan ramah lingkungan, mulai tereskalasi atau berubah 180 derajat ketika pemerintah menelurkan Peraturan Presiden Nomor 22 Tahun 2017 tentang Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), yang akan disusul oleh terbitnya Perpres yang lebih mengerucut soal kendaran listrik.

Sekarang, banyak yang mulai ikut sibuk untuk menyambut era kendaraan listrik di dalam negeri, dari tingkat Kementerian sampai lingkungan kepresidenan. Proyek baru kemudian lahir lewat PT Mobil Anak Bangsa (MAB), yang model pertama yang dilahirkannya adalah bus listrik, digagas oleh Kepala Staff Kepresidenan (KSP) Jenderal TNI (Purnawirawan) Moeldoko.

Baca juga : Pemerintah Siapkan Insentif untuk Kendaraan Listrik

Jenderal TNI (Purnawirawan) Moeldoko, Kepala Staff Kepresidenan (KSP) bersama bus listrik PT Mobil Anak Bangsa yang digagasnya.KOMPAS.com / GHULAM M NAYAZRI Jenderal TNI (Purnawirawan) Moeldoko, Kepala Staff Kepresidenan (KSP) bersama bus listrik PT Mobil Anak Bangsa yang digagasnya.

Dirinya mengiyakan kalau proyek ini merupakan implementasi atau realisasi dari pikiran Presiden Joko Widodo. Namun, ketika produk otomotif berbau “anak bangsa” menempel pada sosok Joko Widodo, memori pikiran beberapa orang bisa saja terpancing untuk kembali mengingat soal proyek mobil Esemka.

Besarnya eksposur pemberitaan Esemka tersebut, yang kemudian menggaungkan nama Joko Widodo sampai ke pelosok negeri, yang secara tak langsung juga mengantarkannya menjadi Gubernur DKI Jakarta. Tak sedikit yang kemudian menganggap itu sebagai strategi politik.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Coba berkaca dari hal tersebut, pertanyaan para pewarta soal anggapan politisasi bus listrik lewat MAB lantas tak terbendung. Namun, Moeldoko kemudian menjawab dengan santai.

“Ya nanti kan masyarakat yang menilai lah. Lagipula ini bisnis murni, mengeksploitasi, mengeksplorasi kemampuan anak-anak Indonesia. Masa tidak boleh berkarya kita, jangan kita sedikit-sedikit Jepang, Korea,” kata Moeldoko, Kamis (1/3/2018).

Namun, apapun latar belakangnya tentu kalau hasil akhirnya positif dan bisa memajukan bangsa, tak ada ruginya untuk bersuara lantang memberikan dukungan. Bus listrik MAB sendiri, bakal masuk ke prototipe ketiga tahun ini, dan siap untuk melahirkan versi produksi massalnya dalam waktu dekat. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.